banner 728x250
Opini  

Perjalanan Wisnu Wicaksono dalam Resensi Buku Nicotine War

Menyingkap Perang Global terhadap Nikotin

banner 120x600
banner 468x60

Ciamis, Kondusif – Dalam kamar yang temaram, Wisnu Wicaksono (bukan nama sebenarnya) duduk dengan tatapan serius. Di hadapannya, sebuah buku terbuka, lembarannya penuh catatan kecil yang ia buat sendiri. Malam itu, ia tenggelam dalam pemikiran, merenungi isi buku Nicotine War karya Wanda Hamilton.

Bukan tanpa alasan Wisnu begitu mendalami buku ini. Nicotine War bukan sekadar bacaan biasa, tetapi sebuah investigasi tajam tentang perang kepentingan antara industri farmasi dan industri tembakau. Buku ini membuka mata Wisnu tentang bagaimana isu kesehatan yang selama ini digaungkan dalam kampanye anti-tembakau ternyata tidak lepas dari permainan bisnis berskala global.

banner 325x300

Perang Nikotin: Kesehatan atau Bisnis?

Sejak dekade 1960-an, kampanye anti-tembakau semakin gencar dilakukan di berbagai belahan dunia. Rokok digambarkan sebagai musuh kesehatan nomor satu, penyebab utama berbagai penyakit mematikan. Namun, melalui buku ini, Hamilton mengungkap bahwa di balik kampanye tersebut ada kepentingan industri farmasi yang berusaha menguasai pasar terapi pengganti nikotin (NRT), seperti permen karet dan plester nikotin.

Hamilton menyajikan data dan bukti bahwa banyak penelitian tentang bahaya rokok didanai oleh perusahaan farmasi. Tujuannya bukan sekadar untuk mengedukasi masyarakat, tetapi juga untuk membentuk opini yang menguntungkan bisnis mereka. Lebih jauh, ia menunjukkan bagaimana organisasi kesehatan dunia, termasuk WHO, sering kali mengeluarkan kebijakan yang sejalan dengan kepentingan industri farmasi.

Wisnu terhenyak saat membaca bagian tentang bagaimana industri farmasi secara sistematis mendorong kebijakan ketat terhadap rokok, tetapi di sisi lain, justru mempromosikan produk alternatif berbasis nikotin yang mereka produksi sendiri. Ini bukan hanya soal kesehatan masyarakat, melainkan perang bisnis bernilai miliaran dolar.

Dampak Global dan Relevansi di Indonesia

Bagi Wisnu, Nicotine War tidak hanya relevan dalam konteks global, tetapi juga mencerminkan realitas di Indonesia. Sebagai salah satu negara penghasil tembakau terbesar di dunia, Indonesia memiliki jutaan orang yang menggantungkan hidup pada industri ini, mulai dari petani tembakau, buruh pabrik rokok, hingga pedagang eceran.

Salah satu aspek yang jarang dibahas dalam perdebatan tentang regulasi tembakau adalah Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Dana ini berasal dari cukai rokok dan dialokasikan untuk berbagai sektor, termasuk kesehatan, pendidikan, serta kesejahteraan petani dan buruh rokok.

Sebagai contoh, berikut adalah besaran DBHCHT yang diterima beberapa provinsi utama penghasil tembakau di Indonesia:

  • Jawa Timur – Lebih dari Rp3 triliun per tahun
  • Jawa Tengah – Sekitar Rp1,5 triliun per tahun
  • Nusa Tenggara Barat (NTB) – Sekitar Rp500 miliar per tahun

Dana ini sangat berpengaruh terhadap perekonomian daerah. Namun, semakin ketatnya regulasi anti-tembakau berpotensi mengurangi penerimaan DBHCHT, yang pada akhirnya bisa berdampak pada kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup pada industri ini.

Wisnu mulai melihat bahwa persoalan tembakau di Indonesia tidak bisa hanya dilihat dari sudut pandang kesehatan semata. Ada jutaan orang yang kehidupannya bergantung pada industri ini, dan kebijakan yang dibuat seharusnya mempertimbangkan keseimbangan antara aspek kesehatan dan ekonomi.

Ketimpangan Regulasi dan Kepentingan Industri Farmasi

Salah satu hal yang ditekankan dalam Nicotine War adalah bagaimana industri farmasi secara aktif membentuk kebijakan yang menguntungkan mereka. Wisnu menemukan bahwa di banyak negara, regulasi rokok semakin ketat, tetapi pada saat yang sama, produk berbasis nikotin seperti vape, permen karet nikotin, dan plester nikotin justru mendapatkan dukungan dan promosi luas.

Hamilton menunjukkan bahwa meskipun rokok dan produk berbasis nikotin sama-sama mengandung zat yang adiktif, kebijakan yang diterapkan sering kali berat sebelah. Rokok dilarang keras, sementara produk farmasi berbasis nikotin dipromosikan sebagai solusi sehat. Ini membuat Wisnu berpikir: apakah benar kebijakan yang ada murni demi kesehatan masyarakat, atau ada agenda bisnis yang lebih besar di baliknya?

Di Indonesia, wacana larangan rokok terus mengemuka, tetapi dampaknya terhadap perekonomian jarang menjadi perhatian utama. Wisnu mulai bertanya-tanya, apakah Indonesia hanya mengikuti arus kebijakan global tanpa mempertimbangkan realitas ekonomi dalam negeri?

Keseimbangan antara Regulasi dan Kesejahteraan

Setelah menyelesaikan buku ini, Wisnu menyadari bahwa perang melawan nikotin bukanlah isu yang sederhana. Ada kepentingan besar yang bermain di baliknya, dan sering kali kebijakan yang dibuat hanya menguntungkan segelintir pihak.

Dari perjalanan resensinya, Wisnu sampai pada satu kesimpulan penting: kebijakan tembakau harus dibuat dengan pendekatan yang lebih seimbang. Kesehatan masyarakat memang penting, tetapi ekonomi dan kesejahteraan petani, buruh, serta masyarakat yang menggantungkan hidup pada industri ini juga harus diperhatikan.

Buku Nicotine War membuka matanya tentang kompleksitas perang nikotin. Wisnu kini memahami bahwa di balik setiap kebijakan besar, selalu ada kepentingan yang bermain. Dan tugas masyarakat adalah untuk lebih kritis, lebih banyak membaca, dan tidak mudah menerima narasi yang dibentuk tanpa memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.

Baca Buku di sini

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *