Opini, kondusif.inewsciamis.com/,- Fenomena oknum wartawan yang membawa meteran dan ikut mengukur proyek pembangunan kini semakin sering terlihat di lapangan. Ada yang sibuk menghitung panjang jalan, mencatat ukuran bangunan, bahkan menilai hasil pekerjaan seolah-olah seorang ahli teknis.
Sekilas tampak aktif dan peduli, namun sebenarnya hal ini menunjukkan kekeliruan mendasar: wartawan bukan surveyor.
Dalam dunia kerja profesional, wartawan dan surveyor berdiri di atas peran yang sama-sama penting, tetapi sangat berbeda.
Wartawan berada di wilayah informasi publik, sedangkan surveyor bekerja di wilayah teknis pengukuran dan analisis data.
Masing-masing memiliki keahlian, kode etik, dan tanggung jawab yang tidak bisa dipertukarkan.
Wartawan: Pencari Fakta, Bukan Pengukur Proyek
Tugas utama wartawan adalah mencari, mengolah, dan menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat.
Wartawan bekerja dengan metode jurnalistik: observasi, wawancara, dan verifikasi.
Dalam konteks peliputan pembangunan, wartawan seharusnya menyoroti kebijakan, transparansi anggaran, serta dampak bagi masyarakat, bukan mengukur panjang jalan atau volume bangunan.
Pekerjaan teknis seperti itu adalah ranah surveyor. Wartawan bekerja dengan data, bukan angka hasil pengukuran.
Wartawan menulis untuk menjelaskan kebenaran sosial, bukan menghitung realitas fisik.
Ketika wartawan turun ke lapangan dengan meteran di tangan, maka yang kabur bukan hanya batas profesi, tetapi juga marwah jurnalistik itu sendiri.
Surveyor: Ahli Ukur yang Bekerja Berdasarkan Standar Teknis
Berbeda dengan wartawan, surveyor merupakan tenaga ahli di bidang pengukuran dan pemetaan.
Tugasnya adalah menentukan data fisik seperti panjang, luas, volume, atau koordinat suatu lokasi dengan alat profesional seperti theodolite, total station, dan GPS geodetik.
Pekerjaan surveyor diatur oleh standar teknis yang ketat dan hasilnya bisa diuji secara ilmiah.
Surveyor menghasilkan angka dan koordinat yang digunakan sebagai dasar perencanaan atau audit proyek.
Mereka bekerja di wilayah presisi, sedangkan wartawan bekerja di wilayah informasi.
Jika wartawan mengambil peran surveyor, maka batas antara pencatat fakta dan pengumpul data teknis akan hilang.
Tanda Krisis Etika dan Identitas Profesi
Fenomena oknum wartawan membawa meteran sejatinya bukan hal sepele.
Itu menunjukkan krisis etika dan identitas profesi di kalangan jurnalis.
Wartawan yang seharusnya menjadi penyampai informasi publik justru tampil seperti auditor lapangan. Akibatnya, publik bisa salah paham tentang peran media.
Lebih jauh, perilaku semacam ini dapat menimbulkan konflik kepentingan.
Oknum wartawan tampak menilai hasil proyek, padahal ia tidak memiliki dasar keahlian untuk itu.
Jika kondisi ini dibiarkan, kepercayaan masyarakat terhadap profesi wartawan bisa menurun karena dianggap tidak memahami batas kerja jurnalistik.
Kembali ke Jalur yang Benar
Setiap profesi memiliki batas dan tanggung jawab moral. Wartawan memiliki Kode Etik Jurnalistik, sedangkan surveyor memiliki standar profesi teknis.
Keduanya tidak boleh saling bertukar peran.
Menjadi wartawan berarti menegakkan kebenaran melalui informasi, bukan melalui alat ukur.
Ia tidak perlu menghitung panjang jalan untuk mengetahui kinerja proyek cukup menelusuri kebijakan, memastikan transparansi, dan menyampaikan hasilnya kepada publik secara objektif.
Wartawan sejati bekerja dengan pena dan nurani, bukan dengan meteran dan angka.
Ukuran keberhasilannya tidak diukur dari seberapa banyak ia mengukur fisik proyek, tetapi dari seberapa dalam ia menggali makna dan kebenaran di balik peristiwa.
Sudah saatnya dunia jurnalistik melakukan introspeksi. Oknum wartawan perlu kembali memahami hakikat profesinya sebagai penyampai kebenaran dan pengawal nurani publik.
Masyarakat membutuhkan berita yang faktual dan bermakna, bukan data pengukuran yang bisa menyesatkan.
Karena pada akhirnya, kehormatan seorang wartawan tidak terletak pada alat ukur di tangannya, tetapi pada integritas dan kejujuran dalam setiap kalimat yang ia tulis.
Penulis : Ghea Chandra
Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan kolom opini, berisi pandangan pribadi penulis. Isi tulisan tidak selalu mencerminkan kebijakan redaksi, namun dimuat untuk memberikan ruang refleksi dan sudut pandang kritis terhadap profesi jurnalistik.






