Ciamis,kondusif.inewsciamis.com/, Dari PO ke Pendopo? Kursi Wakil Bupati Ciamis yang hingga kini belum terisi ibarat teka-teki yang dibiarkan menggantung di ruang publik. Tapi ini bukan semata soal administrasi atau jabatan kosong.
Ini adalah potret buram dari praktik politik lokal kita yang makin hari makin kehilangan arah dan kejujuran dasarnya.
Di tengah stagnasi proses dan pembicaraan yang makin elitis, muncul satu wacana menarik, bagaimana jika ada figur non-partai, seorang pelaku usaha lokal yang sudah dikenal masyarakat, tiba-tiba tampil ke panggung politik?
Bukan karena ambisi, tapi karena dorongan moral dan kedekatannya dengan rakyat.
Sebut saja Asep Sumberjaya pengusaha Otobus yang namanya cukup dikenal.
Terutama karena kiprahnya membangun usaha dari bawah dan interaksinya yang natural dengan masyarakat akar rumput.
Ia bukan bagian dari elit politik, bukan kader partai. Tapi justru di situlah letak kekuatannya.
Bayangkan jika figur seperti Asep benar-benar tampil.
Bukankah itu akan memberi rona baru bagi politik lokal yang selama ini nyaris dimonopoli oleh tokoh-tokoh dengan jejaring partai?
Dalam sistem demokrasi yang sehat, keterwakilan tidak semestinya hanya dimiliki mereka yang punya kendaraan politik.
Tapi hari ini, kita tahu realitas berkata lain, yang tak punya partai, silakan berdiri di luar pagar demokrasi.
Seandainya
Kehadiran figur rakyat semacam ini, andaikan betul-betul muncul setidaknya bisa menjadi alarm, bahwa masyarakat masih haus akan pemimpin yang membumi.
Bukan sekadar simbol atau hasil kompromi politik, tapi seseorang yang benar-benar hidup bersama denyut kehidupan warga.
Tentu ini masih angan-angan. Tapi angan yang menggugah logika.
Kita perlu bertanya, mengapa dalam bursa nama yang beredar, hanya tokoh-tokoh partai yang punya peluang besar? Apakah kapasitas hanya bisa diukur lewat jaringan politik?
Nama-nama seperti Gitta, Tatang, Taufik, Nanang, Adam, Andang terus berputar di grup-grup WhatsApp politik Ciamis, tapi diskusi tentang mereka tak kunjung lepas dari spekulasi elitis.
Masyarakat justru sering hanya jadi penonton atau lebih tepatnya, penebak.
Padahal di tengah tantangan besar yang dihadapi daerah ini pelayanan publik, infrastruktur, pendidikan, kesehatan peran Wakil Bupati tidak bisa dianggap simbolis semata.
Ia harus menjadi mitra strategis kepala daerah. Dan itu tak selalu harus datang dari partai.
Dari PO ke Pendopo?
Jika kelak figur seperti Asep Sumberjaya benar-benar tampil, ia bisa jadi semacam cermin untuk menakar kembali arah demokrasi lokal kita.
Apakah benar kita masih menjunjung partisipasi rakyat, atau hanya menata ulang wajah kekuasaan lama?
Demokrasi lokal tidak boleh dikunci rapat di ruang-ruang rapat yang tertutup.
Kursi kosong ini bisa menjadi peluang untuk membuka ruang bagi tokoh-tokoh yang selama ini berada di luar sistem, tapi dekat dengan rakyat.
Karena sejatinya, jabatan publik adalah amanah dan amanah tidak bisa diukur dari seberapa tebal jaringan politik seseorang, melainkan seberapa besar kepercayaannya di mata rakyat.
Penulis: Asep
(Opini ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan pandangan redaksi.)






