banner 728x250
Opini  

Berita Kecil dan Luka Tak Terlihat di Balik Profesi Jurnalis

banner 120x600
banner 468x60

Opini-Kondusif.com, Saya pernah menulis sebuah berita yang sangat sederhana. Sebuah kegiatan kecil, digagas oleh warga, tanpa panggung besar atau nama-nama penting. Saya hadir, saya wawancara, saya tulis dengan rapi, dan saya minta persetujuan narasumber sebelum mempublikasikannya.

Saya kira itu sudah cukup.

Tapi yang datang bukan apresiasi. Yang datang justru cemooh. Dan yang menyakitkan, cemooh itu datang bukan dari publik, bukan dari narasumber, melainkan dari mereka yang seharusnya memahami kerja jurnalistik: sesama jurnalis.

banner 325x300

“Yang begitu aja diberitakan?” ujar salah satu rekan. Kalimat itu terdengar enteng, bahkan mungkin dianggap biasa di ruang redaksi.

Tapi bagi saya, kalimat itu lebih menyakitkan ketimbang komentar nyinyir dari pembaca anonim di kolom komentar.

Di Antara Kode Etik dan Ego Profesi

Sejak awal juga kita diajari bahwa tugas jurnalis adalah mencatat fakta, menjaga keberimbangan, dan menghormati narasumber.

Tapi tak banyak yang mengingatkan kita bahwa menghormati sesama jurnalis juga bagian dari etika.

Kita begitu sibuk mengoreksi redaksi lain, sampai lupa bahwa kita juga saling menyakiti dengan komentar yang menjatuhkan.

Cemoohan terhadap berita yang dianggap “terlalu kecil” perlahan membunuh semangat banyak jurnalis muda.

Padahal, siapa yang berhak menentukan nilai sebuah berita?

Bukankah setiap media punya segmentasi, setiap jurnalis punya ruang narasi sendiri? Jika berita itu menyajikan fakta, jika ada proses verifikasi, jika narasumber memberi persetujuan, mengapa harus direndahkan hanya karena tidak memuat nama-nama besar?

Mengangkat Realitas yang Sering Diabaikan

Kita juga boleh saja memburu isu politik nasional atau kasus-kasus besar, tapi di balik itu semua, kehidupan warga berjalan dalam irama yang lebih sunyi.

Di sanalah realitas paling jujur sering bersembunyi: di balik tenda kecil pasar rakyat, di antara pertandingan catur antar-RT, di pojok jalan tempat warga memperbaiki got secara swadaya.

Berita kecil juga tidak berarti berita remeh. Justru di situlah wajah Indonesia yang sesungguhnya bisa terlihat.

Saya teringat ucapan seorang wartawan senior, dengan nada setengah bercanda tapi penuh makna: “Orang sedang buang hajat pun bisa jadi berita asal kamu tahu bagaimana menulisnya.”

Kalimat itu bukan ajakan untuk vulgar, tapi pengingat bahwa jurnalis harus peka pada detail kehidupan, sekecil apa pun itu.

Kita Sedang Kekurangan Empati, Bukan Sekadar Standar

Mungkin kita terlalu sering bicara soal akurasi, tetapi jarang membicarakan empati. Kita bicara soal “berita besar”, tapi lupa bahwa makna besar bisa tumbuh dari hal yang paling sederhana.

Bukan headline yang membuat jurnalis mulia, melainkan ketekunannya mencatat dunia yang seringkali sunyi dan tak terlihat.

Menulis berita kecil butuh keberanian. Bukan karena temanya rumit, tetapi karena penulisnya siap dicibir oleh rekan-rekannya sendiri.

Mari Belajar Menghargai Karya Kecil

Jurnalis tak selalu harus heroik. Kadang, ia hanya perlu hadir. Merekam. Mendengarkan. Dan menuliskan dengan jujur.

Kita boleh mengkritik, tentu. Tapi marilah kita mulai menahan lidah dari nyinyir yang melemahkan.

Sebab saat kita meremehkan berita orang lain, mungkin kita sedang mengkhianati profesi ini dari dalam.

Kita tidak tahu, seberapa besar kekuatan dari berita yang tampak kecil. Barangkali satu berita tentang kegiatan warga bisa menyelamatkan semangat kolektif.

Atau sekadar membuat satu komunitas merasa dihargai dan didengar.

Dan bukankah itu, sebenarnya, tujuan dari jurnalisme?

Catatan: Opini ini adalah pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi.

 

Oleh: Asep Wahyudin

Jurnalis lepas, penulis isu sosial, budaya, dan olahraga

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *