banner 728x250

Koalisi Permanen Prabowo: Strategi Politik atau Sekadar Wacana? Waketum PKB Angkat Bicara

Wakil Ketua Umum PKB, Jazilul Fawaid, menegaskan bahwa perihal durasi koalisi bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan saat ini.

banner 120x600
banner 468x60

Jakarta, Kondusif – Wacana koalisi permanen yang diusulkan Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan. Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, menanggapi ide tersebut dengan mempertanyakan batas waktu dari definisi “permanen” yang dimaksud. Sementara itu, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menilai hal itu hanya soal teknis yang bisa dibicarakan lebih lanjut.

PKB: Batas Waktu Bukan Substansi Utama

Wakil Ketua Umum PKB, Jazilul Fawaid, menegaskan bahwa perihal durasi koalisi bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan saat ini. Menurutnya, yang terpenting adalah substansi dari koalisi itu sendiri, yakni untuk memperkuat pemerintahan dan mempercepat pembangunan.

banner 325x300

“Wah, hemat saya kalau soal batas waktu itu urusan teknis, bukan substansi. Yang teknis tentunya akan dibicarakan belakangan,” ujar Jazilul dalam sebuah pernyataan, Senin (17/2/2025).

Ia menambahkan bahwa PKB menangkap esensi utama dari tawaran Prabowo, yaitu menciptakan tim yang solid guna mendukung stabilitas pemerintahan.

“Kami menangkap substansinya saja bahwa Pak Prabowo menawarkan koalisi yang kokoh dan permanen. Dan itu baik bagi percepatan pembangunan,” lanjutnya.

Surya Paloh: Permanen Sampai Kapan?

Di sisi lain, Surya Paloh masih belum sepenuhnya mengiyakan gagasan ini. Ia menilai ide tersebut perlu dikaji lebih dalam sebelum disepakati.

“Satu lemparan usulan yang perlu untuk dikaji, ya. Saya pikir itu amat memungkinkan,” kata Paloh usai menghadiri HUT Partai Gerindra di SICC, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (15/2).

Namun, ia menyoroti aspek durasi dari gagasan permanen tersebut. Baginya, istilah “permanen” masih perlu diperjelas, apakah berlaku untuk satu, dua, atau lebih banyak periode pemilu ke depan.

“Kalau bisa permanen, baik. Tapi permanen sampai berapa lama? Apakah dua kali pemilu? Tiga kali pemilu? Empat kali pemilu? Lima kali pemilu dan sebagainya?” ujar Paloh.

Asal-usul Wacana Koalisi Permanen

Gagasan ini pertama kali mencuat setelah Ketua Umum PKB yang juga menjabat sebagai Menko Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar (Cak Imin), menghadiri acara silaturahmi kebangsaan di kediaman Prabowo, Hambalang, Jawa Barat. Dalam pertemuan tersebut, Prabowo mengajukan konsep koalisi permanen di hadapan para elite partai politik yang tergabung dalam koalisi.

“Intinya, memperkuat koalisi. Pak Prabowo menawarkan koalisi permanen. Beliau meminta persatuan menjadi kunci utama pemerintahan,” ungkap Cak Imin kepada wartawan, Jumat (14/2).

PKB sendiri menyambut baik usulan tersebut. Menurut Cak Imin, koalisi yang lebih solid dapat mempercepat pembangunan nasional.

“Dan tentu PKB menyambut baik. Ini menjadi penguatan bagi percepatan pembangunan,” ujarnya.

Akankah Koalisi Ini Bertahan?

Wacana ini masih menjadi bahan diskusi di kalangan politisi. Di satu sisi, ide ini dinilai dapat memperkuat pemerintahan, menghindari instabilitas politik, serta memastikan kesinambungan kebijakan. Namun, di sisi lain, pertanyaan besar muncul: Seberapa lama “permanen” itu bertahan? Apakah koalisi ini akan tetap solid saat kepentingan politik masing-masing partai berubah di masa depan?

Sejauh ini, belum ada kesepakatan konkret. Namun, satu hal yang pasti, gagasan ini akan terus menjadi topik panas di panggung politik nasional.

banner 325x300

Respon (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *