Feature, kondusif.inewsciamis.com/ – Saat melangkahkan kaki di salah satu sudut Pasar Manis Ciamis, suasana yang biasanya hiruk-pikuk terasa jauh lebih sunyi. Para pedagang terlihat duduk menunggu pelanggan yang datang seperti menanti hujan di musim kemarau. Senyum mereka tetap terpancar, meski jelas ada rasa khawatir yang menghantui bahwa Susahnya Cari Uang Hari-Hari Ini.
“Hari ini baru laku dua potong baju, itu pun yang diskon besar-besaran,” keluh Ibu Ani, seorang pedagang pakaian yang telah berjualan di pasar ini selama lebih dari 10 tahun, Selasa (21/1/2025).
Bagi banyak pedagang di Ciamis, kondisi ekonomi saat ini terasa semakin sulit. Bukan hanya karena daya beli masyarakat yang menurun, tetapi juga karena persaingan yang semakin ketat, baik dari sesama pedagang maupun dari tren belanja online yang kian digemari dan susahnya cari uang hari-hari ini.
“Dulu orang belanja pasti datang ke pasar. Sekarang, tinggal buka aplikasi, barang langsung diantar ke rumah,” ujar Pak Jaka, penjual sembako yang omzetnya turun drastis sejak pandemi.
Kenapa semakin susah mendapatkan uang? Banyak pedagang mengeluhkan berbagai hal, mulai dari naiknya harga bahan pokok, pajak yang memberatkan, hingga kurangnya perhatian dari pemerintah daerah.
“Harga barang naik terus, sementara penghasilan kita nggak seberapa. Mau naikin harga barang, pelanggan malah kabur,” kata Ibu Rina, pedagang sayur yang harus bangun sejak subuh untuk memastikan dagangannya segar setiap hari.
Di tengah tantangan ini, pedagang juga merasa kurang mendapatkan dukungan konkret.
“Ada bantuan sih, tapi kadang nggak tepat sasaran. Kami yang benar-benar kecil ini sering terlewat,” ungkap Pak Wawan, penjual kerajinan tangan yang usahanya mulai kehilangan pembeli karena pembeli anggap bukan kebutuhan utama.
Suara dari Pembeli
Tidak hanya pedagang, pembeli pun merasakan hal yang sama.
“Sekarang semuanya serba mahal, jadi kami lebih pilih beli yang benar-benar penting saja,” ujar Siti, seorang ibu rumah tangga yang tengah memilih bahan dapur di pasar tradisional.
Menurutnya, sulitnya kondisi ekonomi ini membuat banyak keluarga di Ciamis lebih selektif dalam membelanjakan uang mereka.
Meski kondisi serba sulit, para pedagang tetap menyimpan harapan.
“Yang penting kita jangan menyerah. Kalau ada pelatihan atau program dari pemerintah yang bisa bantu jualan, kami pasti ikut,” kata Ibu Ani penuh semangat.
Pak Jaka, mengungkapkan harapan serupa yang kini mulai belajar memasarkan barang dagangannya secara online meski masih terbatas.
Dari Pasar Manis hingga warung kecil di pinggiran Ciamis, cerita tentang susahnya mencari uang hari-hari ini menggambarkan potret nyata perjuangan rakyat kecil. Mereka yang berjualan demi menyambung hidup kini menghadapi tantangan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Namun, satu hal yang pasti, mereka tidak menyerah.
Mungkin inilah waktunya bagi kita semua, termasuk pemerintah daerah, untuk bersatu padu mencari solusi. Sebab di balik setiap lapak yang sunyi, ada keluarga yang bergantung pada penghasilan yang semakin sulit didapat. Apakah ada harapan untuk perubahan? Hanya waktu yang akan menjawabnya, tetapi perjuangan mereka mengajarkan kita tentang arti keteguhan.






