banner 728x250

Pedagang Sayur, Pahlawan Gizi yang Kerap Terlupakan

banner 120x600
banner 468x60

Bekasi, Kondusif – Saat langit Bekasi masih gelap dan kebanyakan orang masih terlelap, roda kehidupan sudah mulai berputar di salah satu pusat pangan penting, “Pasar Induk Cibitung Kabupaten Bekasi, Jawa Barat”. Di sana, puluhan truk datang membawa hasil bumi dari berbagai daerah. Sayur segar diturunkan dalam karung-karung besar, menanti ditata dan dijual oleh tangan-tangan yang terlatih oleh waktu dan kesabaran.

Salah satu tangan itu milik Udin, seorang pria yang sudah lebih dari satu dekade menjadi pedagang sayur eceran di pasar tersebut. Ia bukan pemilik kios besar atau pemain pasar dengan omzet puluhan juta rupiah per hari. Tapi Udin punya satu hal yang langka, semangat yang tak lekang oleh malam dan hujan.

banner 325x300

“Jam 12 malam saya sudah sampai pasar,” tuturnya sambil menyusun kentang-kentang besar dari Dieng di lapaknya. “Kalau kesiangan, bisa kehabisan barang bagus,” kata Udin Senin 21 Juli Dini hari.

Udin memulai harinya jauh sebelum fajar. Di tengah udara dingin dan jalanan yang masih sepi, ia membelah malam demi satu tujuan, yaitu menyambung hidup dan menjaga pasokan sayur untuk para pelanggan tetapnya.

Lapaknya sederhana, tapi selalu bersih dan tertata rapi. Kentang, kol, terong, buncis, dan tomat disusun berdasarkan ukuran dan kesegaran. Setiap hari, ia menjajakan hasil bumi kepada pembeli dari berbagai latar, di antaranya, pemilik warung nasi, warung sayur eceran, tukang sayur keliling, hingga ibu rumah tangga yang datang mencari bahan masakan segar.

“Yang penting jujur sama pembeli,” kata Udin. “Saya nggak mau nipu, timbangan juga harus pas. Karena mereka langganan, saya pun bergantung sama kepercayaan,” Ujarnya.

Di balik wajahnya yang tenang, tersimpan cerita perjuangan yang tidak ringan. Ia pernah rugi besar saat pandemi karena pasokan dari petani terganggu dan pembeli menurun drastis. Namun Udin tetap bertahan. Baginya, berdagang sayur bukan hanya soal untung dan rugi, tapi tentang peran—peran kecil tapi penting dalam menjaga ketersediaan sayuran sehat untuk warga Bekasi.

“Sayur itu bukan barang mewah, tapi penting. Anak-anak butuh gizi, ibu hamil butuh asupan sehat. Kalau nggak ada kami yang jualan dini hari, dapur-dapur bisa kosong,” jelasnya.

Meski bekerja dari subuh, Udin biasanya pulang menjelang siang. Ia sempatkan beristirahat, lalu membantu sang istri menyiapkan kebutuhan rumah tangga. Di sela kesibukannya, ia juga rajin mengikuti pengajian dan sesekali berbagi dagangan ke tetangga yang kesulitan.

“Saya nggak kaya, tapi kalau bisa bantu orang, saya bantu. Sayur kadang saya kasih gratis ke tetangga yang susah. Rezeki kan muter-muter,” tambahnya dengan senyum.

Pasar Induk Cibitung mungkin hanya salah satu simpul kecil dalam rantai distribusi pangan nasional. Tapi bagi warga Bekasi, tempat ini adalah urat nadi dapur mereka. Dan di dalamnya, ada sosok seperti Udin pekerja subuh yang tanpa sorotan kamera atau panggung pujian, telah memastikan tiap potong wortel dan kentang sampai ke piring dengan selamat.

Kita mungkin tak mengenal mereka satu per satu. Tapi setiap kali kita memasak sayur untuk keluarga, ingatlah bahwa di balik kesegaran itu, ada Udin yang telah berjaga lebih awal demi dapur kita. Ia adalah satu dari banyak pahlawan sunyi yang menjaga kehidupan tetap berjalan dari balik lapak sayur.

> kondusif.inewsciamis.com/ — Konten Edukasi Positif.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *