banner 728x250

Maksum, Kakek Tangguh 77 Tahun dari Ciamis yang Tak Mau Menyerah

Maksum Kakek tua penjual Tampir yang tetap memilih berjuang di sisa hidupnya.

banner 120x600
banner 468x60

Ciamis, Kondusif Fajar baru saja menyingsing, embun masih menempel di ujung dedaunan, dan jalanan desa masih sepi. Di tengah keheningan itu, Maksum (77) melangkah pelan, memikul beban di pundaknya. Puluhan tampir (tampah anyaman bambu) bergoyang mengikuti ritme langkahnya yang sudah tak sekuat dulu. Nafasnya tersengal, kakinya gemetar, tapi ia tetap berjalan.

Tak ada kendaraan yang membawanya, tak ada siapa pun yang menemani. Hanya ada ia, tampir-tampirnya, dan harapan yang tersisa. Setiap hari, Maksum memulai perjalanan panjang dari rumahnya di Dusun Cirahab, Desa Mangkubumi, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis. Ia menyusuri jalan-jalan desa, mengetuk pintu-pintu harapan, menawarkan tampir yang mungkin tak lagi banyak dibutuhkan orang.

banner 325x300

Enam Puluh Satu Tahun Berjalan Sendiri

Maksum Kakek tua penjual Tampir yang tetap memilih berjuang di sisa hidupnya. Foto by: Kondusif.com
Maksum Kakek tua penjual Tampir yang tetap memilih berjuang di sisa hidupnya. Foto by: kondusif.inewsciamis.com/

Bukan sehari dua hari Maksum menjalani hidup seperti ini. Sejak remaja, ia sudah menapaki jalan yang sama, memikul tampir yang sama, menghadapi letih yang sama. Enam puluh satu tahun berlalu, dan ia masih di sini berjalan kaki, menyusuri kampung demi kampung.

Dulu, ia masih muda, masih kuat. Langkahnya ringan, pundaknya kokoh. Kini, tubuhnya semakin ringkih, napasnya semakin pendek, tapi beban di pundaknya tetap sama. Setiap hari ia membawa sekitar 30 tampir, beratnya bisa mencapai 30 kilogram. Jika ke kota, ia bisa sampai ke Tasikmalaya. Jika ke desa-desa, ia melangkah hingga ke Kawali atau Panawangan.

“Kalau nggak dikeureuyeuh (dijalani dengan usaha), mau kerja apa lagi saya? Sehari-hari butuh makan, butuh pengeluaran. Lagian, siapa yang mau nanggung? Bantuan juga nggak dapat,” katanya lirih saat ditanya di pabrik kerupuk jengkol Bu Entin Senin (10/2/2025).

Ia tak pernah mengeluh panjang lebar, hanya sekadar mengungkapkan kenyataan. Tak ada tangan yang terulur untuk membantunya, tak ada keistimewaan yang ia dapatkan meskipun telah puluhan tahun berjuang.

Hidup Sebatang Kara di Usia Senja

Maksum bukan tak punya keluarga. Ia memiliki tujuh anak dan 23 cucu. Tapi sejak istrinya meninggal tahun lalu, ia hidup sendirian di rumah kecilnya di Dusun Cirahab. Anak-anaknya sudah berumah tangga, sibuk dengan kehidupan masing-masing.

Tak ada yang bisa ia andalkan selain dirinya sendiri. Setiap hari, ia berangkat dengan kaki yang mulai rapuh dan semangat yang tetap ia pertahankan, meski sering kali dunia terasa semakin sepi.

Siang itu, ia tiba di sebuah home industry kerupuk jengkol di Dusun Ancol 2, Desa Sindangkasih. Dengan harapan besar, ia menawarkan tampirnya kepada Bu Entin, pemilik usaha tersebut. Matanya berbinar ketika Bu Entin membeli beberapa tampir darinya.

“Alhamdulillah, dari pagi keliling baru Bu Entin yang beli,” ujarnya dengan senyum kecil yang terlihat samar di wajahnya yang penuh keriput.

Ia tahu, dagangannya semakin sulit laku. Sedikit demi sedikit, tampir mulai kehilangan peminat. Zaman berubah, dan benda-benda tradisional seperti tampir mulai tergeser oleh plastik dan mesin. Tapi Maksum tak punya pilihan lain. Selama kakinya masih bisa melangkah, ia akan terus berjalan.

 

Potret Ketangguhan yang Terlupakan

Matahari semakin condong ke barat, tapi perjalanan Maksum belum selesai. Dengan nafas terengah-engah, ia kembali memikul tampirnya dan melangkah menuju desa berikutnya.

Di zaman serba modern ini, pekerjaan seperti yang dilakukan Maksum mungkin dianggap tidak layak. Anak-anak muda kini lebih memilih bekerja di kantor, menikmati kesejukan ruangan ber-AC, dan menggenggam teknologi di tangan mereka.

Tapi Maksum adalah bukti bahwa perjuangan tak selalu mudah, dan tak selalu nyaman. Tak ada jaminan bahwa esok hari ia akan mendapat pembeli, tak ada kepastian bahwa ia akan membawa pulang cukup uang. Tapi satu hal yang pasti, ia tidak menyerah.

Di pundaknya bukan hanya tampir, tetapi juga harga diri. Ia mungkin hanya seorang pria tua yang berjalan sendirian, tapi semangatnya lebih besar dari langkah kaki siapa pun. Dan di balik tubuh ringkihnya, ada pelajaran hidup yang mungkin sudah dilupakan banyak orang: bahwa hidup adalah tentang bertahan, seberapa pun beratnya.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *