banner 728x250

Tak Ingin Kaya Raya, Penjual Mie Ayam di Ciamis Ini Pilih Barokah: “Kalau soal uang, pasti kurang terus”

banner 120x600
banner 468x60

Ciamis,kondusif.inewsciamis.com/,– Di tengah gemuruh zaman yang makin modern, sosok Kasum (49), penjual Mie Ayam keliling asal Dusun Cipaku, Desa Sukamaju, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis, justru menawarkan narasi berbeda. Bukan soal omzet miliaran atau bisnis waralaba, tapi tentang kejujuran, kesederhanaan, dan keberkahan dalam rezeki.

Namanya Cum Kasum, warga asli kelahiran 1976. Sejak awal 90-an, ia sudah mendorong gerobak mie ayam dengan harga hanya Rp400 seporsi, berkeliling kampung demi menyambung hidup.

banner 325x300

Kini, lebih dari tiga dekade kemudian, harga mie ayamnya naik menjadi Rp10.000. Tapi semangatnya? Masih tetap sama.

“Itu harga ekonomis menurut saya. Kalau dibilang mahal, enggak juga. Yang penting bisa dimakan semua kalangan,” ujarnya saat ditemui Selasa (8/7/2025).

Tidak Mau Cabang, yang Dicari Barokah

Berbeda dari banyak pedagang yang berlomba membuka cabang dan mengejar untung besar, Kasum justru tegas menolak.

Kasum Penjual Mie Ayam asal Sukamju, Baregbeg Ciamis
Kasum Penjual Mie Ayam asal Sukamju, Baregbeg Ciamis

“Saya enggak pengin buka cabang. Yang saya cari bukan banyak-banyakan uang, tapi barokah. Kalau soal uang mah, pasti kurang terus,” katanya sembari tertawa kecil.

Ia berjualan dari zuhur sampai tengah malam menggunakan sepeda motor keliling Desa Sukamaju.

Dulu sempat pakai gerobak, tapi kini beralih ke motor karena faktor usia.

Meski begitu, ia mengakui, “Pakai gerobak itu sebenarnya lebih bisa menjangkau semua tempat. Tapi ya tenaga sudah tidak seperti dulu.”

Pernah Raup Rp600 Ribu Sehari, Kini Turun Setengahnya

Pandemi COVID-19 menjadi titik balik dalam perjalanannya.

Jika sebelumnya bisa mengantongi Rp500-600 ribu per hari, kini saat ramai hanya Rp400 ribu, dan saat sepi tinggal Rp200 ribu.

Meski begitu, ia tak pernah mengeluh. “Masih bersyukur. Yang penting bisa terus jalan,” katanya.

Selain berjualan keliling, Kasum juga membuka warung mie ayam di rumah dan menyerahkan pengelolaannya kepada istrinya.

Kasum memasak sendiri semua bahan seperti daging dan sayuran, kecuali mie yang ia beli dari produsen.

Selain itu, modal usaha pun sepenuhnya berasal dari hasil jerih payahnya sendiri.

Pensiun? Mie Ayam Tetap Jalan, Tapi Pakai Karyawan

Sementara itu, saat ditanya soal masa depan, Kasum mengaku ingin mengurangi aktivitas keliling.

“Nanti penginnya di rumah aja, punya usaha lain yang bisa dijalankan dari rumah. Tapi mie ayam ini tetap jalan. Paling nanti ada karyawan yang nerusin,” ujarnya.

Kisah Kasum adalah potret nyata tentang bagaimana semangat wirausaha tak selalu berarti ekspansi besar-besaran.

Ada yang cukup dengan keberkahan dan ketulusan dalam melayani.

Di tengah dunia yang serba cepat, barangkali kisah seperti ini adalah nafas yang menyejukkan.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *