BANDUNG,kondusif.inewsciamis.com/,- Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat (Jabar) bergerak cepat membendung lonjakan kasus campak di wilayahnya.
Otoritas kesehatan kini mendesak petugas medis di daerah terdampak untuk segera menggelar Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi massal tanpa melihat status vaksinasi sebelumnya.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, mengungkapkan bahwa Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut menjadi sasaran utama pada April 2026 ini.
Keputusan tersebut menyusul tren peningkatan kasus yang signifikan di kedua wilayah tersebut.
”Pelaksanaan ORI ini mempertimbangkan lonjakan kasus di sana,” ujar Vini, Rabu, 1 April 2026.
Kejar Target Imunisasi
Langkah ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari aksi serupa pada Februari lalu.
Kala itu, tim medis telah menyisir wilayah Puskesmas Cimaragas, Bagendit, dan Cibiuk di Kabupaten Garut.
Namun, perlawanan terhadap virus ini tidak berhenti di situ.
Selain melalui ORI, pemerintah provinsi juga menggencarkan Catch up Campaign (CUC).
Program ini menyasar anak usia 9 hingga 59 bulan yang belum mendapatkan dosis imunisasi campak rubella secara lengkap.
Saat ini, delapan wilayah mulai dari Kota Bogor, Depok, Bandung, hingga Kabupaten Subang tengah berpacu dengan waktu untuk mencapai target cakupan 100 persen.
Vini menjamin stok vaksin campak rubella (MR) masih aman untuk menyokong kedua program tersebut.
Ia pun meminta fasilitas kesehatan tidak perlu khawatir akan kehabisan pasokan.
”Apabila terjadi kekurangan vaksin, puskesmas bisa langsung meminta ke Dinas Kesehatan Provinsi Jabar,” tegasnya.
Menanti Jarum Suntik
Meski vaksin tersedia, pelaksanaan ORI di lapangan masih menunggu lampu hijau distribusi alat suntik auto disable syringe (ADS) dari Kementerian Kesehatan.
Kabar baiknya, pusat telah selesai memverifikasi alat tersebut dan siap mengirimkannya ke Jawa Barat dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Vini memberikan instruksi keras kepada rumah sakit dan puskesmas agar melaporkan setiap temuan suspek campak dalam waktu kurang dari 24 jam.
Ia meminta tenaga medis segera melakukan langkah mitigasi begitu menemukan gejala:
1. Isolasi ketat pasien minimal tujuh hari sejak munculnya ruam merah.
2. Intervensi gizi melalui pemberian vitamin A sesuai dosis usia.
3. Asupan tinggi protein dan kalori untuk memperkuat imun pasien.
Pesan untuk Orang Tua
Vini juga mengingatkan masyarakat agar tidak abai memeriksa buku kesehatan anak.
Menurutnya, tidak ada kata terlambat untuk melengkapi imunisasi demi mencegah komplikasi berbahaya.
Sebagai pengingat, protokol imunisasi campak standar wajib diberikan sebanyak tiga kali: saat anak berusia 9 bulan, 18 bulan, dan ketika menginjak kelas 1 SD.
“Segera lengkapi imunisasi di posyandu atau puskesmas terdekat,” pungkasnya.










