kondusif.inewsciamis.com/,- Di balik keberagaman rasa Indonesia, tersimpan ribuan resep tradisional yang diwariskan turun-temurun. Tapi belakangan, ada yang bikin hati miris: banyak makanan khas daerah mulai tenggelam, kalah pamor oleh kuliner kekinian. Generasi muda lebih mengenal croffle, ramen, atau Korean garlic bread, ketimbang tiwul atau mie lethek.
Padahal, makanan-makanan itu bukan sekadar pengisi perut. Di dalamnya ada sejarah, identitas, dan kenangan masa kecil.
Berikut ini 10 makanan tradisional Indonesia yang mulai jarang terdengar namanya dan mungkin saja sudah tak pernah lagi dicicipi oleh sebagian anak muda zaman sekarang.
Makanan Tradisional Indonesia
1. Tiwul – Gunungkidul, Jawa Tengah
Tiwul terbuat dari singkong yang dikeringkan dan ditumbuk. Dahulu jadi makanan pokok saat musim paceklik.
Rasanya khas, apalagi kalau dimakan dengan gula kelapa atau urap sayur.
Tapi sekarang? Tiwul lebih sering jadi pajangan di etalase pasar wisata ketimbang jadi menu harian.
2. Papeda – Papua dan Maluku
Papeda itu semacam bubur dari sagu yang kenyal seperti lem bening. Dulu, makanan ini simbol ketahanan pangan di Timur Indonesia.
Namun, karena teksturnya tak biasa, banyak anak muda yang enggan mencoba. Sayang, padahal kuah kuning ikan yang menyertainya itu gurihnya luar biasa.
3. Jadah Tempe – Kaliurang, Yogyakarta
Ketan gurih yang dipadukan dengan tempe bacem manis.
Kombinasi sederhana tapi nendang! Di masa lalu, ini bekal wajib para pendaki Merapi.
Kini, hanya bisa ditemui di beberapa warung di Kaliurang, dan jarang muncul di radar kuliner anak-anak muda.
4. Gaplek – Jawa Tengah
Mirip dengan tiwul, gaplek juga berbahan dasar singkong. Bedanya, gaplek dikeringkan dulu sebelum dimasak.
Dulu dianggap “makanan orang desa,” dan mungkin karena stigma itu, kini banyak anak muda yang tak mengenalnya sama sekali.
5. Lupis – Jawa dan Sumatera
Kue ketan yang dibungkus daun pisang, disiram gula merah cair, dan dilumuri kelapa parut.
Pernah jadi favorit untuk sarapan atau sajian pasar.
Tapi di zaman di mana roti isi keju dan minuman boba menjamur, lupis seperti dilupakan perlahan-lahan.
6. Kapurung – Sulawesi Selatan
Kalau belum pernah makan kapurung, bayangkan sagu yang dibentuk bulat-bulat lalu disajikan dalam kuah sayur dan ikan.
Rasanya segar dan sehat. Tapi karena cara masaknya cukup unik, banyak yang tak mau repot. Generasi muda lebih memilih makanan instan.
7. Bubur Pedas – Kalimantan Barat
Namanya bubur, tapi bukan bubur ayam. Ini pakai sayuran segar, rempah khas, dan kadang daging. Dulu jadi sajian buka puasa favorit.
Kini, kalah saing dengan makanan-makanan franchise yang terus menjamur bahkan di pelosok.
8. Sambal Tempoyak – Sumatera Selatan & Jambi
Sambal ini unik karena berbahan dasar durian yang difermentasi. Aromanya menyengat, rasanya tajam, tapi justru itulah daya tariknya.
Sayangnya, banyak anak muda yang lebih memilih sambal geprek atau saus Korea dibanding sambal tradisional seperti ini.
9. Mie Lethek – Bantul, Yogyakarta
Mie ini dinamai “lethek” alias kusam karena warnanya tidak kinclong seperti mie modern.
Tanpa bahan pengawet, tanpa pemutih, dan dibuat secara tradisional.
Rasanya sederhana tapi menghangatkan. Tapi ya itu tadi, kurang “Instagramable.”
10. Leme-leme – Sulawesi Tenggara
Kue dari ketan hitam yang dibungkus daun dan dikukus. Teksturnya legit, rasanya manis.
Namun kini lebih sering muncul di festival budaya daripada di meja makan anak muda.
Kenapa Kita Harus Peduli?
Karena makanan bukan cuma soal rasa ia adalah warisan.
Oleh karena itu, saat satu makanan punah, satu potong sejarah ikut menghilang.
Kita kehilangan bukan hanya cita rasa, tapi juga cerita di baliknya: tentang nenek yang dulu mengajarkan cara membungkus.
Kemudian, tentang musim panen singkong yang jadi perayaan, tentang kebersamaan di dapur.
Kalau generasi kita tak mengenalnya, siapa lagi yang akan menyelamatkannya?
Ayo Lestarikan Makanan Tradisional Indonesia
Pertama, kita bisa mencoba resepnya di rumah, meski cuma sesekali.
Kemudian, mengajak teman nyobain makanan khas yang belum pernah mereka makan.
Jangan lupa juga ceritakan pengalamanmu makan tiwul atau papeda di media sosial.
Lalu, kalau kamu punya nenek atau ibu yang bisa masak makanan ini, duduklah di samping mereka. Dengarkan, tiru, dan abadikan.
Dengan demikian, makanan tradisional adalah identitas kita. Jangan biarkan tiwul, papeda, atau kapurung hanya tinggal nama dalam buku sejarah.
Oleh karena itu, kita masih bisa menyelamatkan mereka, satu suapan demi satu cerita.






