banner 728x250
News  

Kahayang hingga Kaboga, Ini Makna Panca Gawe dari Jalatrang Ciamis

banner 120x600
banner 468x60

Ciamis,kondusif.inewsciamis.com/,- Filosofi Panca Gawe menjadi roh dari gerakan besar ketahanan pangan di Desa Jalatrang, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis. Lima prinsip sederhana yang lahir dari masyarakat ini ternyata mampu menggerakkan perubahan besar dalam pola pikir dan gaya hidup warga, terutama dalam upaya menciptakan kemandirian ekonomi berbasis pekarangan.

Kepala Desa Jalatrang, Dadi Haryadi, menjelaskan bahwa Panca Gawe merupakan transformasi lokal dari nilai-nilai pemberdayaan yang telah dikenalnya sejak tahun 2004.

banner 325x300

“Konsep ini kami adopsi dan sesuaikan dari gerakan 5K yang dulu pernah digagas oleh Pak H. Rukman dari Dinas KB Kabupaten Ciamis. Lalu kami modifikasi menjadi Pancagawe istilah yang lebih membumi di masyarakat kami,” ujar Dadi saat diwawancarai, Jumat (25/7/2025).

Lima Pilar Semangat Panca Gawe

Filosofi Panca Gawe terdiri dari lima kata kunci berbahasa Sunda.

Kahayang yang memiliki arti memiliki impian.

Kemudian, Kadaek yang berarti adanya niat dan aksi nyata.

Lalu, Kanyaho yakni pengetahuan sebagai landasan perubahan

Selanjutnya, Kabisa yaitu memiliki keterampilan dan kemampuan yang diasah.

Terakhir, Kaboga yaitu memiliki hasil nyata berupa kepemilikan dan manfaat yang dirasakan.

“Kalau seseorang punya kahayang (harapan), maka harus ada kedaek (niat dan aksi),” ujar Dadi.

“Kemudian, ia harus kanyaho (tahu caranya), lalu kabisa (bisa melakukan), hingga akhirnya kaboga (memiliki hasilnya).”

Landasan Gerakan Pekarangan Pangan Bergizi

Prinsip Panca Gawe bukan hanya slogan.

Filosofi ini mengakar kuat dalam program Pekarangan Pangan Bergizi (P2B) yang dijalankan warga sejak tahun 2021.

Dimulai dari kesadaran akan tingginya pengeluaran rumah tangga untuk bumbu dapur seperti cabai, tomat, dan bawang merah.

Yang mencapai Rp72 juta per bulan. Pemerintah Desa menginisiasi pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan utama.

Warga kemudian dibimbing melalui Sekolah Lapang Pertanian, dibentuknya Kelompok Wanita Tani (KWT).

Lalu, pendampingan dari penyuluh pertanian. Semua dilandasi dengan prinsip kahayang hingga kaboga.

Sinkron dengan Program Pemerintah Jawa Barat

Menurut Dadi, Panca Gawe memiliki semangat yang selaras dengan program Pancawaluya yang digaungkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Kalau di Jawa Barat ada Pancawaluya, di Jalatrang ada Pancagawe. Harapannya sinkron, agar desa dan provinsi berjalan seiring menuju kemandirian,” ucapnya.

Hal ini semakin menunjukkan bahwa filosofi lokal pun bisa menjadi strategi pembangunan desa yang efektif, bahkan ketika bersanding dengan kebijakan di level provinsi dan nasional.

Dari Falsafah Menjadi Bukti Nyata

Kini, dengan filosofi Panca Gawe sebagai panduan hidup dan kerja, Desa Jalatrang bukan hanya berhasil menjuarai lomba nasional P2B.

Akan tetapi, berhasil menumbuhkan semangat kolektif untuk mandiri secara ekonomi.

Sekitar 70 persen dari 1.870 rumah kini telah memanfaatkan pekarangan untuk budidaya pangan sendiri.

“Ini bukan semata-mata demi lomba,” tegas Dadi.

“Tapi untuk masa depan desa. Kami ingin ada kemandirian, ada ketahanan pangan, dan warga bisa kaboga hasil nyata dari kerja keras mereka.”

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *