banner 728x250
News  

LGBT Bak Gunung Es, DPRD Minta Ada Psikolog Klinis dan Rehabilitasi di Ciamis

banner 120x600
banner 468x60

CIAMIS,kondusif.inewsciamis.com/– Anggota DPRD Kabupaten Ciamis Ijuddin menilai fenomena LGBT di wilayahnya sudah memasuki tahap yang mengkhawatirkan. Ia menyebut, kasus yang muncul ke permukaan hanya sebagian kecil dari kenyataan di lapangan.

Hal itu disampaikan Ijuddin dalam sesi tanya jawab Sosialisasi Program P5HAM di Hotel Tyara Plaza, Ciamis, Senin (6/10/2025).

banner 325x300

Saat audiens menanyakan kepada narasumber bagaimana menyikapi maraknya perilaku menyimpang di kalangan remaja dan pelajar di Ciamis.

“Kasus LGBT di Ciamis sangat mengkhawatirkan. Apa yang muncul di media hanya sebagian kecil. Akar persoalannya banyak berasal dari kondisi keluarga yang tidak baik,” ujar Ijuddin.

Menurutnya, peran keluarga menjadi faktor utama dalam mencegah perilaku menyimpang.

DPRD Mengesahkan Ketahanan Keluarga

Karena itu, DPRD Ciamis telah mengesahkan Peraturan Daerah tentang Ketahanan Keluarga sebagai upaya memperkuat fondasi sosial masyarakat dari lingkup terkecil.

“Kami di DPRD sudah mengesahkan Perda Ketahanan Keluarga. Tapi langkah ini tidak bisa berdiri sendiri, perlu kolaborasi antara pemerintah daerah, aparat hukum, dan berbagai pihak lain,” tegasnya.

Ijuddin menambahkan, Kabupaten Ciamis juga memiliki Perda Perlindungan dan Pemberdayaan Anak.

Namun, ke depan, ia menilai perlindungan anak dan perempuan sebaiknya diatur dalam regulasi yang terpisah agar penanganannya lebih fokus.

“Perlindungan anak dan perempuan itu dua hal berbeda. Ke depan saya akan usulkan agar dibuat dua perda terpisah,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa hingga kini Ciamis belum memiliki lembaga perlindungan anak yang memadai.

Akibatnya, korban kekerasan atau pelecehan sering kali harus dititipkan ke lembaga di luar daerah.

“Selama ini anak-anak korban dikirim ke Bandung atau Tasikmalaya. Tapi kadang di sana malah memperburuk kondisi mental mereka,” ungkapnya.

Ijuddin menilai penting adanya fasilitas rehabilitasi khusus bagi korban LGBT di Ciamis. Menurutnya, banyak pelaku berawal dari korban yang tidak tertangani secara psikologis.

“Orang yang sudah jadi korban biasanya bisa jadi pelaku di kemudian hari. Karena itu perlu ada rehabilitasi dan pendampingan psikolog klinis di Ciamis,” jelasnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa upaya pemulihan tidak selalu menjamin keberhasilan jika pola pembinaan masih bersifat minimal.

“Saya tidak bisa menjamin anak-anak yang direhabilitasi akan sembuh total kalau sistemnya masih setengah hati. Tapi paling tidak, kita harus berusaha meminimalisir,” ujarnya.

Dia juga menegaskan bahwa persoalan LGBT harus dihadapi secara komprehensif, mulai dari pembinaan keluarga, peran sekolah, hingga dukungan psikologis dan hukum.

“Ini bukan sekadar isu moral, tapi tanggung jawab bersama untuk menyelamatkan generasi muda,” pungkasnya.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *