GARUT,kondusif.inewsciamis.com/,- Bagi Aipda Sugianingsih, seragam cokelat Polri bukanlah penghalang untuk melesat di lintasan lari. Personel Satuan Intelijen Keamanan (Sat Intelkam) Polres Garut ini membuktikan bahwa dedikasi pada korps bisa berjalan beriringan dengan gairah di dunia atletik.
Sejak menambatkan hati pada olahraga lari enam tahun silam, Sugianingsih konsisten memanen medali di berbagai ajang bergengsi.
Langkah kakinya mulai akrab dengan aspal dan jalur setapak sejak 2020.
Bukan sekadar hobi musiman, ia menempa fisik dengan disiplin baja di tengah kesibukan menjaga keamanan wilayah Garut.
Kerja keras itu pun berbuah manis. Deretan trofi kini menghiasi lemari prestasinya, menegaskan posisinya sebagai salah satu pelari tangguh di kategori Women Open.
Rekam Jejak di Lintasan
Keuletan Sugianingsih terpeta jelas dalam catatan podium yang ia raih selama tiga tahun terakhir:
Papandayan Trail Run 2023: Menyabet Juara 2 kategori 10K Women Open.
Kemala Run 2024: Mengamankan Juara 3 kategori Bhayangkari 10K.
Papandayan Trail Run 2025: Kembali naik podium sebagai Juara 3 kategori 10K Women Open.
Garut Run Festival: Mengukuhkan dominasinya dengan meraih Juara 3 kategori 10K Women Open.
Namun, bagi Sugianingsih, lawan terberat bukanlah pelari lain yang membayangi di belakangnya.
“Musuh terbesar kamu adalah rasa malas di diri kamu sendiri, maka janganlah kamu bosan berlatih,” ujarnya mantap pada Kamis, 2 April 2026.
Kalimat itu bukan sekadar motto, melainkan bahan bakar yang membawanya melampaui batas fisik setiap kali rasa jenuh menyapa.
Inspirasi dari Balik Seragam
Keberhasilan Sugianingsih mencerminkan sisi lain anggota Polri yang dinamis.
Di balik ketegasan tugas intelijen, ia menyelipkan pesan tentang pentingnya menjaga kebugaran dan kesehatan mental melalui olahraga.
Prestasinya tidak hanya mengharumkan nama Polres Garut, tetapi juga menjadi pemantik semangat bagi masyarakat luas.
Melalui tiap ayunan langkahnya, Sugianingsih seolah berbisik bahwa prestasi bisa tumbuh di mana saja, asalkan ada komitmen untuk terus bergerak.
Ia menunjukkan bahwa menjadi abdi negara tidak berarti berhenti mengejar mimpi di bidang lain selama rasa malas berhasil ditekuk di bawah tapak sepatu lari.


















