banner 728x250
News  

HTN 2025: PMII Ciamis Kritik Paradoks Pertanian Hingga Mafia Pupuk

banner 120x600
banner 468x60

CIAMIS,kondusif.inewsciamis.com/Krisis Petani Ciamis,- Peringatan Hari Tani Nasional 2025 di Kabupaten Ciamis menjadi panggung kritik tajam dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Organisasi mahasiswa ini menilai pembangunan pertanian di daerah justru bergerak menjauh dari cita-cita kedaulatan pangan, meski pemerintah daerah gencar mengusung slogan “Kabupaten Pertanian Organik” hingga “Kabupaten Swasembada Pangan”.

banner 325x300

“Visi besar itu hanya berhenti di tataran jargon. Realitas di lapangan justru menunjukkan wajah paradoks,” kata Ketua PMII Ciamis, Muhamad Rifa’i, Rabu (24/9).

Kontribusi Pertanian Terus Turun

Dia menyebut, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Ciamis turun dari 23 persen pada 2021 menjadi hanya 20,76 persen pada 2024.

Padahal lebih dari 40 persen wilayah Ciamis merupakan lahan pertanian.

Bagi PMII, angka itu menjadi alarm bahwa sektor pertanian tidak lagi menjadi penopang utama pembangunan daerah.

Petani Gurem dan Konflik Agraria

Menurut Rifa’i, mayoritas petani di Ciamis juga masih berstatus petani gurem dengan lahan sempit, bahkan banyak yang menggantungkan hidup sebagai buruh tani.

Situasi diperparah oleh konflik agraria yang belakangan marak, memaksa petani turun melakukan audiensi ke DPRD.

“Ini menunjukkan ruang hidup petani semakin sempit, negara belum hadir melindungi mereka,” tegas Rifa’i.

Solusi Semu dan Mafia Pupuk

Lebih lanjut, PMII juga menyebut sejumlah program pemerintah seperti Kopdes Merah Putih dan Makan Bergizi Gratis hanya solusi semu.

Petani tetap sulit mengakses modal akibat syarat kredit yang berbelit, sementara rantai tata niaga dikuasai tengkulak.

Kemudian, masalah lain yang tak kunjung tuntas adalah krisis pupuk.

“Selama struktur mafia pupuk tidak dibongkar, swasembada pangan hanya akan menjadi ilusi,” ujar Rifa’i.

Krisis Petani Ciamis

Kekhawatiran lain adalah krisis petani Ciamis. Data Dinas Pertanian menyebut hanya ada 389 petani muda di Ciamis, dan yang aktif tinggal 290 orang.

Jika tren ini berlanjut, dalam 15–20 tahun ke depan, Ciamis berpotensi kehilangan fondasi agrarisnya.

“Ironis sekali, Ciamis yang ingin jadi pusat pertanian modern justru ditinggalkan generasi mudanya. Profesi petani dianggap tidak menjanjikan,” ucap Rifa’i.

Tuntutan PMII

Oleh karena itu, dalam momentum Hari Tani Nasional 2025, PMII Ciamis menyerukan agar pemerintah daerah menjamin akses lahan, modal, pupuk, dan pasar yang adil.

Kemudian, membuat juga program nyata regenerasi seperti Gerakan 1000 Petani Muda.

Lalu, membongkar mafia pupuk dan tata niaga timpang.

Terakhir, menyusun kebijakan pertanian partisipatif, bukan sekadar teknokratis top-down.

“Pertanian tidak boleh sebatas label kabupaten organik atau proyek swasembada pangan. Kedaulatan pangan hanya mungkin tercapai bila petani sejahtera, lahannya terlindungi, dan generasi mudanya kembali percaya bahwa bertani adalah masa depan,” tutup Rifa’i.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *