Pihak sekolah mematok indikator kemampuan seni peran yang cukup mendalam untuk mengukur sejauh mana siswa menyerap materi pelajaran.
”Aspek yang kami nilai meliputi wiraga (gerak), wirasa (penjiwaan), dan wirama (irama). Kami melihat bagaimana mereka memainkan karakter, baik itu tokoh protagonis, antagonis, maupun tritagonis,” jelasnya lagi.
Menariknya, pihak sekolah sengaja tidak mendikte peran kepada para siswa.
Jono menyebut, kebebasan memilih karakter merupakan kunci agar potensi diri siswa keluar secara maksimal.
”Semua karakter murni pilihan siswa sendiri. Dengan begitu, mereka lebih leluasa mengekspresikan diri tanpa beban, karena peran yang dimainkan sesuai dengan minat dan potensi masing-masing,” tambahnya.
Gali Potensi dan Rasa Percaya Diri
Melalui panggung kabaret ini, SMPN 1 Manonjaya berharap para siswa tidak hanya jago secara teori, tetapi juga berani tampil di depan publik.
Ujian ini menjadi sarana efektif untuk mengasah mental dan rasa percaya diri siswa kelas IX sebelum mereka lulus.
”Harapan kami, penampilan ini bisa membuat siswa lebih dalam menggali potensi diri. Tidak hanya akting, tapi juga menari dan cara berinteraksi dalam sebuah drama yang utuh,” pungkas Jono.



















Jujurr kayak seruu