Tasikmalaya,kondusif.inewsciamis.com/— Kelas 9G SMPN 1 Manonjaya,- Dalam ajang kreativitas dan pentas seni 2025 di SMP Negeri 1 Manonjaya, kelas 9G mencuri perhatian dengan mengusung tema unik bertajuk “Hutan.”
Tema ini muncul dari semangat siswa untuk tampil berbeda dari kelas lain yang memilih tema laut dan batik.
Mereka ingin membawa suasana alam yang segar dan inspiratif.
“Kami ingin menampilkan suasana hutan yang menyenangkan dan penuh kehidupan, bukan menyeramkan,” ujar Liza Zahra Maulida, perwakilan siswa kelas 9G, Selasa (14/10/2025).
Menurut Liza, ide tersebut terinspirasi dari lingkungan sekitar sekolah yang masih asri serta dorongan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap alam sejak dini.
Persiapan tema “Hutan” dilakukan dengan penuh kerja sama.
Dekorasi Dari Bahan Alami
Seluruh siswa kelas 9G bergotong royong menyiapkan dekorasi dari bahan alami yang mudah ditemukan.
Selama seminggu, mereka mengumpulkan daun pisang kering (kararas) untuk dijadikan hiasan dinding dan atap, berpadu dengan daun kelapa kering yang memberi nuansa alami.
“Kami pakai daun pisang kering yang benar-benar kering, disambung tali rafia lalu ditempel ke dinding,” jelas Liza.
Meski bahan sempat kurang, semangat siswa tidak surut.
Mereka tetap menata ruang kelas seindah mungkin agar tetap sesuai dengan konsep hutan tropis.
Kreativitas siswa kelas 9G mendapat apresiasi langsung dari Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya, Edi Riswandi Hidayatullah, S.Pd., M.M.
Menurutnya, karya seni bertema alam mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan dan membuktikan bahwa kreativitas bisa menjadi media edukasi yang efektif.
“Kehidupan itu untuk memberikan keindahan. Apa pun yang ada di alam bisa menjadi karya yang bermanfaat dan eksotis,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa kegiatan seperti ini mampu menanamkan nilai estetika sekaligus mengajarkan generasi muda agar tidak mengabaikan alam.
Melalui tema “Hutan,” para siswa 9G tak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga pesan ekologis tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Karya mereka menjadi pengingat bahwa hutan bukan tempat menyeramkan, melainkan ruang kehidupan yang harus dirawat bersama.
Ajang ini membuktikan bahwa kreativitas, kerja sama, dan cinta lingkungan bisa berpadu indah dalam karya seni sederhana namun bermakna.


















