Ciamis,kondusif.inewsciamis.com/– Kebun Alpukat H. Dadang. Di sebuah pagi yang masih berselimut embun, H. Dadang Sujana berjalan perlahan di antara rimbunnya pohon-pohon alpukat miliknya. Berlokasi di Dusun Mulyasari, Desa Bangunsari, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis.
Lahan seluas 2,5 hektare itu kini menjadi saksi hidup perjalanan seorang petani yang menanam mimpi besar dari tanahnya sendiri.
Kebun alpukat H. Dadang Sujana kini dikenal luas, tak hanya di Priangan Timur, tetapi juga mulai menarik perhatian dari berbagai daerah di Indonesia.
Di bawah tangan dinginnya, tumbuh tiga varietas alpukat unggulan. Miki (Cimpedak), Sub 034, dan Ijo Panjang.
Dia merawat pohon-pohon alpukat itu dengan detail, mulai dari memilih media tanam, menerapkan irigasi tetes yang efisien, hingga mengatur sistem pemupukan secara berimbang.
“Alpukat bagi saya bukan cuma buah. Ia adalah hidup saya, tempat saya menaruh harapan, usaha, dan doa,” ujar H. Dadang saat diwawancara, Selasa (24/6/2025).
Saat ini, sekitar 700 dari 1.300 pohon sudah menunjukkan tanda akan panen pada musim akhir tahun ini, yakni sekitar November hingga Desember 2025.
Namun, keberhasilan kebun ini bukan hanya terletak pada jumlah panen. Lebih dari itu, nilai yang ia bawa adalah kombinasi antara kearifan lokal dan sentuhan teknologi pertanian modern.
H. Dadang mengintegrasikan prinsip pertanian organik dan berkelanjutan.
Sistem kelembaban dan penyiraman diatur otomatis dengan teknologi sederhana namun efektif, sementara tanah tetap dirawat tanpa pestisida berlebih.
Ia ingin menunjukkan bahwa pertanian bisa maju tanpa harus mengorbankan alam.
Kebun Alpukat H. Dadang Peluang Usaha Masyarakat Sekitar

Tidak hanya menghidupi keluarganya, kebun alpukat H. Dadang Sujana juga membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar.
Warga dilibatkan mulai dari proses tanam, perawatan, hingga distribusi.
Bahkan anak-anak muda diajak belajar langsung di lapangan, membuktikan bahwa bertani bukan warisan masa lalu, melainkan pilihan masa depan.
Menariknya, kebun ini kini juga mulai berfungsi sebagai ruang belajar informal. Pengunjung dari luar daerah datang untuk berdiskusi, belajar, hingga menyusun rencana usaha mereka sendiri.
Dalam suasana yang sederhana, tempat ini menjadi pusat pertukaran gagasan, membangkitkan semangat petani muda dan komunitas lokal.
“Kalau orientasinya hanya uang, kita bisa cepat lelah. Tapi kalau kita mencintai prosesnya, hasil akan datang sendiri,” ucap H. Dadang sambil tersenyum.
Di tengah tantangan pertanian nasional mulai dari perubahan iklim hingga fluktuasi harga, kisah dari kebun alpukat H. Dadang Sujana adalah penegas bahwa pertanian tetap relevan dan bisa tumbuh secara mandiri dan berdaulat.
Sebuah pengingat bahwa perubahan besar bisa lahir dari tempat kecil, dari tangan-tangan yang percaya pada nilai kerja keras dan ketekunan.


















