Ciamis,kondusif.inewsciamis.com/,- Polemik dugaan pungutan liar (pungli) di Jembatan Cirahong memasuki babak baru. Setelah sempat viral dan memicu ancaman pidana dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, kini sang Gubernur turun langsung ke lapangan.
Hasilnya? KDM sapaan akrabnya pamer kalau arus lalu lintas tetap ‘aman terkendali’ meski tanpa penjaga swadaya.
Pantauan di akun Instagram pribadinya @dedimulyadi71, Kamis (9/4/2026), KDM tampak berdiri di atas jembatan legendaris tersebut.

Ia sengaja memantau langsung momen saat motor dari arah Ciamis dan Tasikmalaya berpapasan di jalur sempit itu.
”Tuh lancar tuh, dua motor berpapasan saya lihat lancar, nggak ada masalah. Apakah perlu diatur atau tidak?” ujar KDM dengan nada mantap dalam video unggahannya.
Sentilan untuk ‘Polisi Partikelir’
Narasi ini seolah menjadi jawaban telak atas keresahan yang sempat disuarakan sejumlah warga.
Sebelumnya, pasca-pembersihan para pengatur jalan liar oleh aparat Sabtu lalu, muncul kekhawatiran arus akan kacau.
Namun, KDM tampak emoh ambil pusing. Baginya, jembatan yang sudah diperbaiki dengan anggaran provinsi hampir Rp1 miliar itu harus steril dari pungutan non-resmi.
Ia lebih memilih memoles fasilitas ketimbang membiarkan adanya “polisi partikelir” di mulut jembatan.
Lampu Estetik dan ‘Garis Sakti’ Jalur Tengah
Tak cuma soal arus, KDM juga membeberkan rencana besarnya untuk menyulap Cirahong menjadi lebih glow up.
Fasilitas penerangan ditambah dari 26 menjadi 30 titik lampu hias. Proyek pengecatan pun sudah mengantongi restu dari Direktur PT KAI.
”Sudah dipasang lampu, saya minta tambah jadi 30. Selanjutnya pengecatan, saya sudah telepon Direktur PT KAI, sudah oke. Mantap!” serunya.
Pantauan kondusif.inewsciamis.com/ di lokasi pada Kamis (9/4), solusi konkret mulai nampak. Petugas terlihat tengah mengecat garis jalur tengah.
Garis ini akan menjadi pembatas permanen agar motor dari dua arah tidak saling bertabrakan.
Uji Nyali Tanpa Penjaga
Kini, Jembatan Cirahong benar-benar diuji. Tanpa tangan-tangan warga yang menengadah meminta koin sukarela, mampukah garis pembatas dan lampu-lampu indah itu menjaga ketertiban para pengendara?
Dedi Mulyadi optimistis fasilitas yang mumpuni akan melahirkan kedisiplinan.
Namun di sisi lain, warga lokal masih menanti: apakah saat malam gelap atau cuaca buruk, “garis sakti” dan lampu estetik ini cukup untuk menjamin keselamatan mereka tanpa bantuan manusia?
Yang pasti, bagi KDM, drama pungli di Cirahong harus berakhir.
Kini, jembatan itu bukan lagi soal recehan Rp500 perak, melainkan soal wibawa aset negara yang tampil megah di perbatasan Ciamis-Tasikmalaya.


















