banner 728x250
News  

Psikolog Forensik Ungkap Motif Keji di Balik Mutilasi Mojokerto

banner 120x600
banner 468x60

kondusif.inewsciamis.com/,Kasus Mutilasi Mojokerto,- Kasus pembunuhan dengan mutilasi kembali mengguncang publik. Kali ini, peristiwa mengenaskan itu menimpa Tiara Angelina Saraswati (25), perempuan muda yang tewas di tangan kekasihnya sendiri, Alvi Maulana (24).

Tak berhenti di situ, tubuh korban dipotong menjadi sekitar 310 bagian dan disebar di sejumlah lokasi berbeda, termasuk kawasan Pacet, Mojokerto.

banner 325x300

Penemuan potongan tubuh pada Sabtu (6/9/2025) mengakhiri pencarian yang penuh misteri.

Dalam pemeriksaan, Alvi mengaku membunuh Tiara pada Minggu (31/8/2025) di sebuah kamar kos di kawasan Lidah Wetan, Surabaya.

Ia berdalih, konflik asmara yang toxic dan tekanan ekonomi menjadi pemicu tindakannya.

Namun, cara ia mengakhiri hidup sang kekasih justru membuka tabir gelap kepribadiannya.

Analisis Psikologi Forensik: Emosi Tak Terkendali hingga Sikap Narsistik

Praktisi Psikologi Forensik dan Klinis Surabaya, Riza Wahyuni, S.Psi., M.Si., menilai tindakan Alvi bukan sekadar tindak kriminal, melainkan cermin dari kondisi psikologis yang serius.

“Memotong tubuh menjadi ratusan bagian bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan tanpa dorongan kejiwaan tertentu,” jelas Riza.

Ia juga menyebut, pelaku semacam ini kerap menunjukkan tanda borderline personality disorder: emosi labil, mudah tersulut, hingga dorongan menyakiti orang lain.

Tak hanya itu, ada indikasi narcissistic personality disorder (NPD).

Dalam kondisi tersebut, pelaku merasa tidak boleh kalah, ingin menguasai pasangan, dan rela melakukan kekerasan ekstrem untuk mempertahankan dominasinya.

“Dalam kehidupan sehari-hari, pelaku bisa tampak pemarah, manipulatif, dan penuh kontrol terhadap pasangannya,” tambah Riza.

Menariknya, profesi Alvi sebagai jagal hewan juga diyakini berpengaruh terhadap keberaniannya melakukan mutilasi.

Kebiasaan menghadapi darah dan daging hewan membuat tindakannya terhadap manusia semakin dingin.

Upaya Menyembunyikan Jejak: Forensic Awareness Setengah Matang

Tidak hanya kejam, Alvi juga mencoba menutupi jejak. Potongan tubuh korban ia buang di sejumlah titik dengan harapan membingungkan penyidik.

Cara ini dikenal dalam kriminologi sebagai pembuangan instrumental, yakni tindakan sadar untuk mengaburkan investigasi.

Namun, strategi itu justru mengungkap adanya forensic awareness yang setengah matang. Ada niat kuat untuk menghilangkan bukti, tetapi juga terlihat kepanikan yang membuat polisi cepat membaca pola kejahatan.

Kasus Mutilasi Mojokerto Cermin Sisi Gelap Relasi Manusia

Tragedi ini tidak berhenti sebagai kasus kriminal semata. Ia menjadi refleksi tentang betapa rapuhnya relasi ketika dibangun di atas konflik, dominasi, dan tekanan ekonomi. Ketika kendali diri runtuh, kekerasan ekstrem bisa muncul dari orang terdekat.

“Kasus ini memberi peringatan bahwa menjaga kesehatan mental dan membangun hubungan sehat adalah benteng penting agar tragedi serupa tidak berulang,” pungkas Riza.

Kasus mutilasi Mojokerto bukan hanya tentang kejahatan sadis, tetapi juga membuka diskusi soal kesehatan mental, pola relasi toxic, hingga upaya pelaku menutupi kejahatan.

Dari potongan tubuh yang mencapai 310 bagian hingga analisis psikologi forensik, peristiwa ini meninggalkan catatan kelam: sisi gelap manusia bisa muncul kapan saja, bahkan dari orang terdekat.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *