banner 728x250

Heboh! Menu Serangga jadi Sorotan di Program MBG, Apa Kata Pemerintah?

banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, kondusif.inewsciamis.com/ – Perbincangan tentang serangga sebagai bagian dari Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) mencuri perhatian publik. Namun, pemerintah melalui Juru Bicara Kantor Komunikasi Presiden, Hariqo Wibawa Satria, segera memberikan penjelasan untuk meluruskan informasi yang beredar.

Dalam tayangan Sapa Indonesia Malam di KompasTV, Senin (27/1/2025), Hariqo menegaskan bahwa Badan Gizi Nasional tidak pernah menetapkan satu jenis makanan tertentu, termasuk serangga, sebagai standar menu nasional. Ia menjelaskan bahwa lembaga tersebut hanya menentukan standar komposisi gizi dan angka kecukupan gizi (AKG) tanpa mengatur menu spesifik.

banner 325x300

“Wacana serangga muncul karena di beberapa daerah di Indonesia memang ada tradisi makanan khas berbahan dasar serangga. Ini bukan kebijakan untuk seluruh wilayah Indonesia,” ujar Hariqo.

Kearifan Lokal Jadi Dasar Pengembangan Menu

Hariqo menekankan bahwa menu berbasis serangga hanya relevan untuk daerah yang memiliki tradisi kuliner ini, seperti masyarakat yang terbiasa mengonsumsi belalang atau ulat sagu. Ia memastikan bahwa menu tersebut tidak akan diterapkan secara nasional.

Menurutnya, penyusunan menu MBG akan melibatkan ahli gizi dan mengacu pada riset tentang ketersediaan sumber pangan lokal.

“Selama bahan pangan lokal itu memenuhi angka kecukupan gizi dan sesuai dengan anggaran, maka bisa masuk dalam MBG,” tambah Hariqo.

Program MBG sendiri direncanakan berjalan bertahap, dengan target 15 hingga 17,5 juta penerima manfaat pada tahun 2025. Presiden, kata Hariqo, berkomitmen memastikan program ini tepat sasaran dan sesuai jadwal.

Serangga Sebagai Alternatif Sumber Protein

Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyatakan bahwa serangga dapat menjadi alternatif sumber protein, terutama di daerah yang memiliki budaya kuliner berbahan dasar serangga.

“Mungkin saja di daerah tertentu, serangga seperti belalang atau ulat sagu menjadi bagian dari sumber protein utama. Tapi tentu tidak bisa diberlakukan di semua wilayah,” jelas Dadan dalam sebuah acara di Jakarta Selatan pada Sabtu (25/1/2025).

Diversifikasi Pangan Berbasis Budaya Lokal

Wacana serangga dalam MBG mencerminkan pendekatan berbasis kearifan lokal yang berupaya memanfaatkan kekayaan kuliner Nusantara. Pemerintah berharap program ini tidak hanya menjadi solusi untuk pemenuhan gizi, tetapi juga membuka peluang diversifikasi pangan yang selaras dengan kebutuhan dan tradisi masyarakat setempat.

Dengan pendekatan yang inklusif dan berbasis riset, program MBG diharapkan mampu menjawab tantangan gizi di berbagai daerah tanpa mengabaikan keunikan budaya lokal. Bagaimanapun, keragaman Indonesia menjadi kekuatan yang tak terbantahkan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *