CIAMIS,kondusif.inewsciamis.com/— Dalam momentum Hari Pengurangan Risiko Bencana Internasional, masyarakat bersama Pemerintah Kabupaten Ciamis menggelar aksi sosial penuh makna di Pemakaman Dalem Patinggi, Blok Margasari, Kelurahan Sindangrasa, Selasa (14/10/2025).
Kegiatan ini diinisiasi oleh Forum Peduli Daerah Irigasi (FPDI) Ciamis dengan dukungan Polres Ciamis, Kodim 0613, dan Brimob Batalyon D Pelopor Satbrimob Polda Jabar.
Kolaborasi lintas elemen ini juga tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga menjadi wujud penghormatan terhadap nilai-nilai sejarah lokal.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan memahami sejarah Galuh sebagai identitas daerah,” ujar Dodi Suparto, Ketua FPDI Ciamis.
Pembersihan Saluran Air Nagawiru dan Edukasi Sejarah Galuh
Lebih lanjut, rangkaian acara dimulai dengan kegiatan pembersihan Saluran Air Nagawiru.
Warga dan aparat bekerja sama membersihkan sedimen serta sampah di aliran air bersejarah itu.
Saluran Nagawiru memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Galuh, salah satu pusat peradaban kuno di Tatar Sunda.
Nilai sejarahnya juga menjadi alasan utama kegiatan dilakukan di lokasi tersebut.
Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Ciamis (DKKC), Yat Rospia Brata, turut memberikan pemaparan sejarah tentang hubungan Nagawiru dan Galuh.
“Nagawiru bukan sekadar situs. Ia adalah cermin kearifan lokal dalam mengelola air dan alam secara bijak,” tutur Yat.
Penjelasan tersebut juga menjadi edukasi berharga tentang bagaimana leluhur Sunda sudah menerapkan prinsip mitigasi bencana berbasis kearifan lokal sejak masa lampau.
Penanaman Pohon, Simbol Cinta Lingkungan dan Pelestarian Budaya
Selain pembersihan, komunitas Permata Lingga juga melaksanakan aksi penanaman pohon di area pemakaman.
Aksi ini juga menjadi simbol nyata cinta lingkungan dan penghargaan terhadap sejarah Galuh.
Menurut Mumu, Ketua Permata Lingga, kegiatan tersebut melibatkan penanaman 50 pohon aren, 75 pohon manglid, dan 50 pohon pinang.
“Kami menanam bukan hanya pohon penahan air, tetapi juga tanaman bernilai ekonomi agar manfaatnya berlipat bagi masyarakat,” ujarnya.
Aksi ini menegaskan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan berdampingan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal
Kegiatan lintas komunitas ini menunjukkan bahwa mitigasi bencana tidak selalu memerlukan program besar.
Dengan kolaborasi sederhana, hasilnya bisa nyata dan berkelanjutan.
Kerja sama antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat menjadi model pembangunan berkelanjutan yang efektif sekaligus memperkuat kesiapsiagaan bencana di tingkat lokal.
Dengan memadukan pelestarian alam dan pemahaman sejarah, warga Ciamis menjaga warisan leluhur sambil menanamkan kesadaran akan pentingnya keseimbangan alam.
“Sejarah, budaya, dan lingkungan adalah satu kesatuan. Ketiganya harus dijaga demi masa depan Ciamis yang tangguh,” tutup Dodi Suparto.


















