banner 728x250
News  

Diskusi Guru dan Organisasi Media di Ciamis Bahas Polemik Pemberitaan SDN 2 Sukanagara

banner 120x600
banner 468x60

CIAMIS,kondusif.inewsciamis.com/,Etika Jurnalis,- Polemik pemberitaan mengenai Kepala Sekolah SDN 2 Sukanagara, Kecamatan Jatinagara, Kabupaten Ciamis, akhirnya ditindaklanjuti lewat forum diskusi terbuka. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula PGRI Ciamis, Selasa (23/9/2025), dengan melibatkan guru, perwakilan organisasi media, serta Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis.

Forum digelar untuk mendengarkan langsung keterangan dari pihak guru yang diberitakan, sekaligus memberi ruang klarifikasi kepada wartawan yang menulis berita.

banner 325x300

Klarifikasi Guru dan Wartawan

Dalam forum itu, guru SDN 2 Sukanagara menjelaskan kronologi peristiwa yang sempat ramai diberitakan.

Mereka menyebutkan, ketidakhadiran kepala sekolah saat itu sudah diinformasikan secara internal, meski memang tidak ada surat resmi yang ditunjukkan ke publik.

Sementara wartawan yang menulis berita tersebut menyampaikan, kedatangannya ke sekolah dilakukan bersama rekan, bukan sendirian. Mereka menunggu lebih dari setengah jam di luar area sekolah.

“Bahkan ada satu guru yang mendatangi saya, menanyakan kepsek karena ada keperluan keluarga,” ujarnya.

Namun, karena merasa tidak ada tindak lanjut, wartawan kemudian menulis berita.

“Secara manusiawi kami juga bekerja, yang penting tidak keluar dari koridor,” tambahnya.

Tanggapan Organisasi Media Mengenai Etika Jurnalis

Perwakilan sejumlah organisasi wartawan hadir dalam forum ini, di antaranya IJTI, PWI, IWO, IPJI Mereka menyoroti pentingnya etika jurnalis dalam praktik.

Ketua IJTI Ciamis, Yosep, menegaskan seluruh anggotanya sudah memiliki kompetensi resmi.

“Etika jurnalistik dan sopan santun itu hal dasar. Kalau narasumber enggan bicara, jurnalis harus menghargai. Saya melihat isi berita kemarin lebih menyudutkan sekolah, itu tidak mencerminkan jurnalis berkompeten,” tegasnya.

Dari Ketua PWI, Anthika Asmara menilai kasus ini bisa menjadi pelajaran penting.

“Berita yang saya lihat sangat tidak sesuai kode etik. Penyudutan dan intimidasi tidak bisa dibenarkan. Tugas wartawan mencerdaskan, bukan menekan,” ujarnya.

IWO melalui Kayan Manggala juga menyesalkan adanya praktik pemberitaan yang merugikan citra wartawan. “

“Kami memohon maaf bila ada pihak guru yang merasa tidak nyaman. Tidak semua wartawan di Ciamis melanggar kode etik,” katanya.

Ketua IPJI Ciamis, Muhammad Rifai, menambahkan perlunya keseimbangan.

“Kami sering mendapat keluhan kepala sekolah soal banyaknya orang mengatasnamakan wartawan. Semua pihak harus patuh pada koridor masing-masing agar tidak ada yang terganggu,” jelasnya.

Respon Guru, Orang Tua, dan Korwil

Sejumlah guru menekankan bahwa mereka tetap berupaya menjalankan kewajiban mengajar, meski terkadang harus menerima tamu dari luar.

“Moto Ciamis itu berakhlak, siapapun yang datang wajib diterima dengan baik. Tapi kami juga punya kewajiban utama mendidik anak,” ujar seorang guru.

Orang tua murid juga ikut bicara. Ia mengaku anaknya menjadi takut ke sekolah setelah insiden itu.

“Senin pagi anak saya menangis tidak mau sekolah. Sampai sekarang harus diantar dan ditunggu sampai pulang,” ungkapnya.

Dari pihak Koordinator Wilayah Pendidikan, disampaikan bahwa persoalan ini sempat menyinggung perasaan para pendidik.

Ia juga menyinggung adanya pengalaman intimidasi di sekolah lain.

“Kami menghargai media, tapi jangan sampai ada tekanan. Kalau ada intimidasi, kami akan bergerak lebih tegas,” ucapnya.

Sikap Dinas Pendidikan

Kabid GTK Dinas Pendidikan Ciamis menegaskan komitmen menjaga hubungan baik dengan media.

“Kami sinergi dengan awak media. Tapi kalau ada rekan guru yang punya masalah disiplin, biar kami yang proses. Mohon jangan intervensi guru yang sedang mengajar,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa ada guru yang sempat terpikir untuk menggelar aksi protes, namun ditahan demi menjaga kondusivitas.

“Mudah-mudahan masalah ini selesai di sini,” katanya.

Diskusi akhirnya ditutup dengan kesepahaman untuk memperbaiki komunikasi dan menegakkan kode etik masing-masing profesi.

Baik guru maupun wartawan sepakat menjaga sinergi agar kejadian serupa tidak terulang.

“Semua punya kode etik, guru dengan tugas mengajar, media dengan kewajiban mencari informasi. Tinggal bagaimana kita menempatkan diri agar tidak saling bersinggungan,” ujar perwakilan Disdik.

Forum ini diharapkan menjadi momentum memperkuat sinergi antara insan pendidikan dan insan pers, demi menciptakan suasana kondusif di dunia pendidikan Kabupaten Ciamis.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *