banner 728x250
News  

Dandim 0613 Soroti Kelayakan Dapur MBG Usai Puluhan Siswa SMPN 4 Pamarican Keracunan

Dandim 0613 Soroti Kelayakan Dapur MBG Usai Puluhan Siswa SMPN 4 Pamarican Keracunan

banner 120x600
banner 468x60

Ciamis, Kondusif Dandim 0613 Ciamis, Letkol. Inf Afiid Cahyono, menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap dapur penyedia makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurutnya, banyak dapur sudah beroperasi tanpa standar kelayakan yang jelas.

banner 325x300

“Cepat mungkin ada akreditasi, karena sampai sekarang banyak dapur yang sudah terbuka, membantu memang, tetapi kelayakannya belum. Kelayakannya perlu dievaluasi,” ujarnya. Selasa, (30/09/2025).

Afiid, menyebut BGN akan segera menentukan siapa pihak yang berwenang untuk mengakreditasi dan memvalidasi dapur.

“BGN, akan menentukan siapa yang akan mengakreditasi” ujarnya.

Pernyataan itu muncul setelah insiden keracunan massal yang menimpa puluhan siswa SMPN 4 Pamarican, Kabupaten Ciamis, pada Senin (29/9/2025).

Aktivitas belajar di sekolah mendadak berubah mencekam ketika siswa kelas 7 dan 8 terkapar akibat gejala mual, pusing, hingga sesak napas setelah menyantap paket MBG.

Ambulans bolak-balik menjemput korban, sementara tim medis berjibaku memberikan oksigen dan pertolongan darurat di halaman sekolah.

Gejala Serius dan Penanganan Cepat

Sebagian besar siswa tak mampu berdiri.

Tim medis membawa korban dengan kondisi ringan ke Puskesmas Pamarican, sementara mereka yang lebih parah langsung dirujuk ke RSUD Banjar.

Kepala sekolah, Titi Hartini, menyebut jumlah korban terus bertambah sepanjang hari.

“Betul ada. Terus bertambah, ada yang dirujuk ke Puskesmas Pamarican sebanyak 9 orang. Bahkan ada yang harus dirujuk ke RS Banjar untuk penanganan serius,” katanya.

Ia menugaskan guru dan tenaga kesehatan mengawasi siswa yang masih beristirahat di kelas. “Mudah-mudahan tidak bertambah lagi. Tadi ada sekitar 40 siswa yang istirahat di sekolah. Petugas puskesmas juga sudah datang dan memeriksa langsung,” tambahnya.

Ayam Berbau Jadi Sumber Kecurigaan

Kecurigaan segera mengarah ke lauk ayam dalam paket MBG.

Abdul Aziz, guru SMPN 4 Pamarican, mengungkapkan beberapa siswa mencium bau tidak sedap pada daging ayam tersebut.

“Sebagian siswa bilang daging ayamnya bau, jadi ada yang tidak memakannya dan langsung membuangnya. Ada juga yang hanya menyantap sayurnya saja,” ujarnya.

Dari 400 paket makanan yang sekolah terima, 129 paket belum terbagi.

Paket tersebut kini menjadi barang bukti penting untuk penyelidikan.

Bupati Herdiat Tegaskan Langkah Tegas

Bupati Ciamis Herdiat Sunarya menyatakan ada 47 siswa yang mengalami keracunan, 16 di antaranya masih menjalani perawatan.

“Saat ini, 14 siswa berada di Puskesmas Pamarican dan dua orang di RSUD Banjar. Jadi total ada 16 siswa yang masih dalam perawatan,” ujarnya.

Herdiat memastikan pemerintah tidak akan tinggal diam.

“Kalau aturan mengharuskan menutupnya sementara, akan kita tutup. Kalau harus tutup permanen, maka akan kita lakukan,” tegasnya, menyoroti dugaan kelalaian dapur penyedia makanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Ia, menekankan harus mematuhi standar waktu memasak.

“Kalau sampai waktu memasak 12 jam sebelum pendistribusian, itu jelas kelalaian,” katanya.

BGN Tutup Dapur Sukajadi

Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya menghentikan sementara operasional dapur MBG Pamarican Sukajadi.

Keputusan itu tertuang dalam surat resmi bernomor 544/D.TWS/09/2025 yang ditandatangani Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Alberius Dony Dewantoro.

“Untuk sementara SPPG Ciamis Pamarican Sukajadi dihentikan operasionalnya sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” bunyi surat tersebut.

BGN menilai kasus ini menunjukkan lemahnya verifikasi sejak awal pelaksanaan program MBG.

Praktisi Hukum Ingatkan Pemerintah

Praktisi hukum asal Ciamis, Vera Fillinda Agustiana Dewi, S.H., M.H., menilai insiden ini harus menjadi bahan evaluasi.

“Pertama, sebaiknya lakukan kajian apakah pemberian gizi kepada masyarakat rentan harus melalui pembagian makanan langsung. Atau ada cara lain yang lebih aman. Kalau tetap akan berlanjut, maka pengelola makanan harus qualified, tentunya dengan melibatkan ahli hingga ke tingkat bawah,” ujarnya.

Vera menambahkan, kasus ini menimbulkan kecemasan bagi masyarakat penerima manfaat program MBG.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *