Ciamis,kondusif.inewsciamis.com/,– Perguruan pencak silat Ciung Wanara Putra Galuh (CWPG) memiliki pendekatan unik dalam melatih atlet. Pelatih CWPG, Kurniawan alias Juli, mengungkapkan bahwa perguruan ini menggabungkan dua aliran besar pencak silat Sunda, yaitu Cimande dan Cikalong, demi membentuk pesilat yang bukan hanya tangguh, tapi juga cerdas dalam bertanding.
Menurut Juli, perbedaan antara kedua aliran ini cukup kontras. Aliran Cikalong dikenal licik dalam arti strategis, karena memanfaatkan tenaga lawan.
“Kalau ada yang mukul, dia tidak melawan dengan benturan, tapi memanfaatkan gerakan lawan untuk dijatuhkan. Teknik jatuhan dan bantingan Cikalong itu mengambil tenaga lawan,” jelasnya.
Sementara itu, Cimande terkenal dengan karakter kerasnya.
Teknik Cimande mengandalkan kekuatan benturan, sapuan kaki, dan serangan langsung ke tubuh lawan.
“Kalau sudah terbiasa di Cimande, benturan tidak akan terasa sakit,” tambah Juli.
CWPG Gabungkan Keduanya
CWPG memadukan keunggulan kedua aliran tersebut menjadi strategi bertanding yang efektif.
Dari Cikalong, mereka mengambil teknik jatuhan dan bantingan, sedangkan dari Cimande, mereka mempertahankan kekuatan sapuan kaki dan serangan keras ke badan lawan.
Kombinasi ini menghasilkan pesilat yang mampu bertahan dan menyerang dengan efektif, sambil menghemat tenaga.
“Kenapa digabungkan? Karena kami ingin atlet tidak hanya mengandalkan kekuatan, tapi juga berpikir pintar. Kasarnya, kalau ada yang mukul, untuk apa dibenturkan kalau kita bisa menghindar sambil menyerang? Itu lebih efisien dan efektif,” terang Juli.
Pendekatan ini juga dianggap relevan dengan perkembangan pencak silat modern, di mana strategi dan adaptasi menjadi kunci dalam memenangkan pertandingan.
CWPG menekankan bahwa seorang pesilat harus bisa membaca situasi, mengenali pola serangan lawan, dan memutuskan apakah akan bertahan, menghindar, atau menyerang balik.
Selain teknik, pelatih juga mengajarkan aspek mental dan kedisiplinan.
Menurut Juli, menguasai gabungan Cimande dan Cikalong membutuhkan latihan rutin, ketahanan fisik, serta kecerdasan taktis.
“Kalau cuma keras tapi tidak pintar, bisa habis tenaga sebelum pertandingan selesai. Tapi kalau pintar tanpa kekuatan, sulit menjatuhkan lawan. Harus seimbang,” katanya.
Dengan metode gabungan ini, CWPG telah melahirkan banyak atlet berprestasi, baik di tingkat daerah, provinsi, maupun nasional.
Strategi ini terbukti efektif dalam menghadapi berbagai gaya bertarung lawan, karena pesilat CWPG bisa menyesuaikan diri dengan cepat di arena.
Juli berharap pendekatan ini bisa terus diwariskan ke generasi berikutnya.
“Silat itu bukan sekadar adu kekuatan, tapi seni membaca lawan dan mengatur strategi. Kalau bisa memadukan kerasnya Cimande dan liciknya Cikalong, kita punya pesilat yang komplet,” tutupnya.


















