banner 728x250

Canggih! Desa Ini Dorong Pertanian Organik dengan Drone

banner 120x600
banner 468x60

Tabanan, Kondusif – Desa Jatiluwih, Tabanan, Bali, semakin mantap menuju kawasan pertanian organik. Dengan dukungan teknologi drone canggih dari Bank Indonesia (BI), petani di daerah ini kini lebih optimis dalam mengembangkan pertanian ramah lingkungan. Kepala Pengelola Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih, I Ketut Purna, menegaskan bahwa inovasi ini akan mengatasi berbagai tantangan yang selama ini menghambat transisi ke sistem organik.

Solusi untuk Tantangan Pertanian Organik

Perubahan ke pertanian organik bukan tanpa hambatan. Salah satu kendala terbesar adalah biaya dan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk penyemprotan rutin. Banyak petani merasa terbebani karena harus menyemprot lahan setiap dua minggu sekali, yang berimbas pada efisiensi waktu dan biaya.

banner 325x300

“Kalau petani harus menyemprot sendiri setiap dua minggu sekali, mereka rugi pupuk dan rugi tenaga. Ditambah lagi, penghitungan harian mereka sering kalah dengan buruh harian,” ujar Purna seperti dikutip dari unggahan video dari laman instagram pribadinya, Sabtu (8/2/2026)

Untuk mengatasi masalah ini, Purna mengajukan proposal ke berbagai BUMN agar petani bisa mendapatkan bantuan teknologi. Bank Indonesia pun akhirnya mengabulkan permohonan tersebut dengan memberikan bantuan drone pertanian berteknologi tinggi.

Teknologi Drone: Efisien dan Ramah Lingkungan

Dengan hadirnya drone ini, harapan petani Jatiluwih untuk beralih ke sistem organik semakin nyata. Drone yang digunakan bukan sembarang drone teknologi ini dapat diprogram untuk terbang secara otomatis sesuai pemetaan lahan.

“Kita tidak perlu operator profesional, cukup atur di komputer, drone akan terbang sesuai rute dan kembali dengan sendirinya. Sangat aman dan efisien,” kata Purna dengan penuh optimisme.

Saat ini, pihaknya juga bekerja sama dengan seorang profesor dari Yogyakarta yang mengembangkan pupuk organik. Targetnya, dalam 2–3 tahun ke depan, seluruh pertanian di Jatiluwih bisa sepenuhnya organik.

Dari sisi operasional, pilot drone akan dipekerjakan sebagai tenaga harian. Dengan luas sawah mencapai 230 hektare, penyemprotan menggunakan drone hanya membutuhkan waktu sekitar 10–12 menit per hektare. Penyemprotan ini dilakukan secara berkala setiap dua minggu dan diberikan secara merata, bahkan kepada petani yang belum beralih ke pupuk organik.

Drone Canggih DJI Agras T40

Instruktur pilot drone dari PT Smart Tech Solution International, Putra Mustofa, menjelaskan bahwa perusahaannya adalah distributor eksklusif DJI Agriculture di Indonesia. Drone yang digunakan, DJI Agras T40, memiliki spesifikasi mumpuni untuk sektor pertanian.

“T40 ini bisa mengangkut 40 liter cairan dalam sekali terbang. Waktu terbangnya sekitar 7,5 menit untuk satu kali penyemprotan,” jelasnya.

Dengan kapasitas tersebut, drone ini mampu menyemprot hingga 2 hektare dalam satu kali penerbangan, tergantung kondisi lapangan.

Sebagai bagian dari implementasi teknologi ini, pelatihan pilot drone telah berlangsung selama tiga hari dengan empat peserta. Selanjutnya, mereka akan melanjutkan pelatihan mandiri dengan pemantauan dari PT Smart Tech Solution International.

Masa Depan Pertanian Jatiluwih

Meskipun masih ada biaya operasional seperti pengisian baterai dan pembelian pupuk, kehadiran drone ini dipandang sebagai langkah besar menuju pertanian yang lebih modern dan berkelanjutan. Dengan teknologi canggih dan dukungan dari berbagai pihak, Jatiluwih selangkah lebih maju dalam mewujudkan pertanian organik sepenuhnya.

Inovasi ini bukan hanya memudahkan petani, tetapi juga menjaga keindahan dan kelestarian Jatiluwih sebagai salah satu warisan budaya dunia yang diakui UNESCO.

banner 325x300

Respon (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *