kondusif.inewsciamis.com/, Bitcoin Anjlok mencatat pelemahan tajam setelah nilai tukarnya jatuh di bawah level psikologis USD 99.000. Koreksi ini terjadi menyusul meningkatnya ketegangan global, khususnya setelah Amerika Serikat meluncurkan serangan udara ke fasilitas nuklir Iran.
Penurunan tersebut menandai level terendah Bitcoin dalam enam pekan terakhir dan memicu kepanikan di pasar aset digital.
Tak hanya Bitcoin, Ethereum dan berbagai altcoin juga ikut terdampak. Ethereum sempat terkoreksi lebih dari 10% sebelum mengalami sedikit pemulihan.
Sementara itu, Solana turun lebih dari 7%, XRP terkoreksi 8%, dan Dogecoin melemah hingga 9%.
Ini mencerminkan respons negatif pasar terhadap meningkatnya risiko global.
Bitcoin Anjlok, Posisi Long Terlikuidasi, Pasar Kripto Masih Rentan
Data dari CoinGlass mencatat lebih dari USD 1 miliar posisi dalam pasar kripto terlikuidasi dalam 24 jam terakhir.
Mayoritas berasal dari posisi long yang terlalu spekulatif, menunjukkan bahwa pasar masih rapuh ketika dihadapkan pada kejutan eksternal seperti konflik geopolitik.
Antony Kusuma, Vice President INDODAX, menjelaskan bahwa penurunan ini tidak hanya didorong oleh faktor teknikal.
“Ketika ketegangan global meningkat, pasar kripto menunjukkan reaksi negatif karena investor cenderung menjauhi aset berisiko,” ujarnya dalam keterangan resmi, seperti dikutip dari Kumparan, Senin (23/6).
Ia menambahkan, sejak isu serangan AS ke Iran mulai beredar, pelaku pasar mulai mengurangi eksposur terhadap aset digital.
Ini terlihat dari penurunan tajam arus masuk ke ETF spot Bitcoin menjelang akhir pekan lalu.
Dana Masuk ke ETF Spot Bitcoin Menyusut Tajam
Berdasarkan data yang dihimpun, ETF spot Bitcoin mengalami arus masuk signifikan senilai USD 1 miliar pada awal minggu lalu.
Namun, angka itu menurun drastis pada Kamis menjadi nol, dan pada Jumat hanya tercatat USD 6,4 juta.
Hal ini menunjukkan sikap wait and see dari investor institusi, yang menunggu kepastian arah kebijakan AS.
“Investor ritel perlu memahami bahwa volatilitas adalah bagian dari ekosistem kripto. Namun bukan berarti selalu berbahaya. Bagi mereka yang berpengalaman, justru saat seperti ini bisa jadi momentum untuk masuk dengan valuasi menarik,” ujar Antony.
Ancaman Kenaikan Inflasi dan Dampaknya terhadap Kripto
Di sisi lain, JPMorgan memperkirakan harga minyak bisa melonjak ke USD 130 per barel apabila Iran menutup Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak dapat menyebabkan inflasi AS kembali mendekati 5%, yang berpotensi memaksa The Fed untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga lanjutan.
Ancaman inflasi ini turut mendorong peralihan dana dari aset berisiko seperti kripto ke aset yang lebih aman, seperti obligasi dan emas.
Kondisi ini menambah tekanan pada pasar kripto global.
Tetap Optimistis dalam Tren Jangka Panjang
Meski situasi jangka pendek tampak penuh tekanan, Antony menyebut bahwa tren siklus pasca-halving Bitcoin yang terjadi pada April 2024 masih berada dalam jalur naik historis.
“Secara fundamental, Bitcoin tetap kuat. Jumlahnya terbatas, dan penerimaan institusional terus bertumbuh. Tekanan saat ini adalah bagian dari dinamika musiman yang biasa terjadi,” katanya.
Sebagai pemain utama di industri kripto Tanah Air, INDODAX terus berkomitmen dalam memberikan edukasi dan transparansi kepada para penggunanya.
“Kami juga terus menjalin kerja sama dengan otoritas terkait untuk memastikan bahwa aktivitas perdagangan kripto di Indonesia berjalan aman, sesuai regulasi, dan bisa dipercaya,” tutup Antony.
















