banner 728x250
News  

Riuh, Aksi Telolet Di Gedung Sate Tekan Pemprov Jabar Tinjau Larangan Study Tour

banner 120x600
banner 468x60

Bandung,kondusif.inewsciamis.com/ – Senin, (21/7/2025), Gedung Sate tak seperti biasanya. Bukan karena pejabat tinggi datang. Bukan pula karena seremoni kenegaraan. Tapi karena suara ratusan klakson bus pariwisata yang bersahutan, membentuk irama khas: telolet… telolet… telolet!

Dalam video beredar berdurasi kurang dari satu menit itu, kamera bergerak pelan dari atas salah satu bus, merekam deretan panjang kendaraan besar yang memenuhi ruas jalan utama.

banner 325x300

Dari kejauhan, tampak lautan atap bus dengan beragam warna: biru, emas, abu-abu, kuning.

Ada pula para sopir dan kru yang berdiri tenang di atasnya, seolah menjadi penanda bahwa mereka adalah wajah dari krisis yang sedang disuarakan.

Tidak ada kekerasan. Tidak ada kerusuhan. Hanya barisan kendaraan yang diam, namun bersuara.

Suara telolet jadi simbol simbol keresahan, harapan, dan kekuatan kolektif.

“Aksi ini bukan sekadar demo, ini bentuk pernyataan yang hanya bisa disampaikan oleh orang-orang jalanan: supir, kru, dan pemilik PO kecil. Kami bicara lewat cara kami,” ujar H. Dian Sukardi, Manager PO Bus Sumber Jaya.

Gema Solidaritas, Bukan Sekadar Klakson

Dalam video tersebut, suara telolet juga tidak muncul satu-dua kali. Ia muncul dalam gelombang. Disambut, disusul, dan dibalas oleh ratusan klakson lainnya.

Bukan bising, tapi berpola. Layaknya paduan suara jalanan yang terlatih tanpa latihan.

Suasana teduh pepohonan di sekitar Gedung Sate juga kontras dengan semangat api yang dibawa para peserta aksi.

Selain itu, mereka datang bukan untuk menggulingkan kebijakan, tapi menggugah empati. Bahwa di balik setiap larangan, ada dampak yang merambat jauh.

Lebih lanjut, larangan study tour yang tertuang dalam Surat Edaran Gubernur No. 45/PK.03.03 KESRA telah menjadi hantaman hebat bagi sektor transportasi wisata.

Bus-bus yang dahulu ramai disewa kini hanya menjadi besi raksasa yang terparkir tanpa tujuan.

Bus yang Menganggur, Keluarga yang Tergantung

Selain itu, setiap bus yang hadir di video itu bukan hanya unit kendaraan.

Ia adalah rumah kedua bagi sopir, harapan ekonomi bagi keluarga, dan simbol perjuangan hidup dari industri yang sering kali terpinggirkan.

“Kalau bus tidak jalan, artinya sopir tidak kerja. Kalau sopir tidak kerja, anaknya tidak sekolah. Sederhana, tapi nyata,” lanjut Dian.

Mereka Tidak Minta Dikasihani, Hanya Ingin Didengar

Lebih lanjut, aksi damai yang terekam itu menggambarkan protes dalam bentuk paling santun, paling kuat, dan paling jujur. Tidak ada benturan.

Selaim itu, tidak ada kemarahan. Yang ada hanya bunyi klakson dan keteguhan hati.

Di akhir video, pemandangan dari atas atap bus menangkap panjangnya iring-iringan yang diam.

Tapi dalam diam itu, tersimpan ribuan suara yang ingin didengar oleh mereka yang berada di ruang keputusan.

Aksi di Gedung Sate bukan hanya soal membunyikan klakson. Tapi soal keberanian menyampaikan aspirasi lewat cara yang unik, damai, dan tak bisa diabaikan.

Suara telolet hari itu, lebih nyaring dari orasi. Lebih dalam dari poster. Dan lebih jujur dari data.

Karena hari itu, bus-bus di Jawa Barat bicara. Dengan suara mereka sendiri.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *