Sulawesi Utara, Kondusif – Sebuah video yang menampilkan seorang demonstran berduel dengan anggota kepolisian di atas truk tronton saat aksi unjuk rasa menolak revisi Undang-Undang (UU) TNI di Sulawesi Utara, Kamis (20/3/2025), kini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Aksi yang dramatis ini tidak hanya menimbulkan gelombang reaksi publik, tetapi juga memicu kekhawatiran banyak netizen tentang nasib demonstran tersebut.
Duel Panas di Tengah Demonstrasi
Kericuhan terjadi saat massa mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Sulut Bergerak menggelar aksi di depan Kantor DPRD Sulawesi Utara. Demonstrasi yang awalnya berjalan damai berubah menjadi panas ketika seorang demonstran naik ke atas truk polisi dan terlibat duel fisik dengan seorang anggota kepolisian.
Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan bagaimana demonstran itu berusaha mendorong polisi hingga nyaris jatuh dari truk. Cuplikan gambar dari video tersebut kemudian viral, salah satunya dibagikan oleh akun X @NenkMonica yang menuliskan, “Gambar termahal di era Indonesia gelap.”
Video tersebut langsung menjadi pusat perhatian, dengan netizen berbondong-bondong menuliskan komentar penuh penasaran. Banyak yang mempertanyakan bagaimana kondisi demonstran setelah insiden itu.
“Ini nasib mas-masnya gimana sekarang?” tanya seorang netizen.
“Gimana kondisi anak muda ini? Berani duel satu lawan satu, jangan-jangan sekarang dikeroyok?” tulis yang lain.
Tidak hanya itu, banyak juga yang menyoroti anggota kepolisian yang tampak kewalahan menghadapi perlawanan demonstran.
“Polisi gak bisa berantem ini gimana konsepnya?” sindir seorang warganet.
Demo Tolak RUU TNI Menyebar, Demonstran Pecah di Jakarta
Aksi protes terhadap revisi UU TNI tidak hanya terjadi di Sulawesi Utara. Di Jakarta, gelombang demonstrasi yang berlangsung di depan Gedung DPR RI juga berujung ricuh.
Massa aksi yang menolak revisi UU TNI menarik pagar gedung DPR dengan tali tambang hingga roboh. Setelah itu, mereka berusaha memasuki kompleks parlemen, tetapi langsung diadang oleh barikade polisi bersenjata tameng. Situasi semakin memanas ketika polisi menembakkan water cannon ke arah demonstran, membuat banyak orang terjatuh dan berlarian menyelamatkan diri.
Bentrokan fisik antara aparat dan massa pun tak terhindarkan. Beberapa pendemo terlihat terlibat adu dorong, sementara lainnya mencoba bertahan dari semprotan air.
Sikap Pemerintah: Tenang Tapi Tegas
Di tengah gelombang demonstrasi yang meluas, pemerintah tampak tenang dalam merespons. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menanggapi protes dengan sikap santai.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang ikut menolak,” ujarnya usai pengesahan RUU TNI di DPR. Namun, ia mengingatkan bahwa perbedaan pendapat tidak boleh mengorbankan persatuan bangsa.
Senada dengan Sjafrie, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyebut protes yang masih berlangsung sebagai bagian dari dinamika politik yang wajar dalam sistem demokrasi.
“Namanya juga demokrasi, sah-sah saja kalau masih ada yang belum menerima,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan bahwa DPR sudah berupaya mengakomodasi berbagai aspirasi masyarakat terkait revisi UU TNI.
“Kami sudah melakukan komunikasi intens dengan berbagai elemen masyarakat. Sekarang saatnya kita bersatu,” pungkasnya.
Akankah Aksi Berlanjut?
Meski pemerintah sudah memberikan pernyataan, gelombang penolakan terhadap revisi UU TNI tampaknya belum mereda. Masyarakat terus mempertanyakan dampak dari aturan baru ini terhadap kehidupan sipil dan demokrasi di Indonesia.
Di sisi lain, nasib demonstran yang viral karena duelnya dengan polisi masih menjadi misteri. Apakah ia baik-baik saja? Apakah ia menghadapi konsekuensi hukum? Publik masih menunggu jawabannya.
Yang jelas, insiden ini telah menambah babak baru dalam sejarah demonstrasi di Indonesia tentang keberanian, perlawanan, dan pertarungan sengit di atas truk yang kini terekam dalam ingatan banyak orang.


















