banner 728x250
News  

“Adab Lebih Tinggi dari Ilmu” Respons Keras Tokoh Ciamis Soal Tayangan Xpose Uncensored

banner 120x600
banner 468x60

Ciamis,kondusif.inewsciamis.com/Ponpes Nuurussalaam Ciamis,- Tayangan salah satu televisi swasta nasional yang menampilkan gambaran kehidupan pondok pesantren secara negatif menuai kecaman luas, termasuk dari kalangan tokoh agama di Kabupaten Ciamis.

Salah satunya datang dari Solihin Susanto, S.Pd, Pimpinan Pondok Pesantren Nuurussalaam Cipaku, yang menyebut tayangan tersebut tidak etis dan berpotensi menggiring opini publik ke arah keliru tentang dunia pesantren.

banner 325x300

Tayangan Dinilai Diskreditkan Pesantren

Menurut Solihin, video yang diambil dari Pondok Pesantren Lirboyo itu menggambarkan suasana pesantren dengan kacamata awam dan penuh bias.

Ia menilai, cara penyajian tersebut menyerang marwah pesantren, seolah-olah kehidupan santri di pesantren identik dengan praktik perbudakan atau eksploitasi.

“Padahal di pesantren, kami para santri justru diajarkan bukan hanya ilmu, tetapi juga adab. Dan adab itu derajatnya lebih tinggi dari ilmu,” tegas Solihin, Selasa (14/10/2025).

Ia juga menambahkan, setiap perilaku santri yang tampak “berlebihan” di mata orang luar seperti merunduk, mencium tangan, atau melayani kyai dengan penuh hormat.

Justru merupakan bentuk ta’dzim (penghormatan) yang menjadi bagian penting dari pendidikan karakter di pesantren.

Negeri Ini Butuh Orang Beradab, Bukan Sekadar Pintar

Sebagai alumni Pesantren Sabilil Muttaqien Pangandaran, Solihin menilai bahwa pendidikan pesantren adalah benteng moral bangsa.

“Negeri ini tidak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang beradab jujur, amanah, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, kerusakan bangsa justru muncul karena banyak pejabat pintar tapi tak beradab.

Sementara pesantren menjadi lembaga yang tetap konsisten membentuk karakter generasi yang bermoral dan berakhlak.

Pesan untuk Publik: Santri Diajarkan Tawadhu, Bukan Takluk

Sebagai Ketua Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Desa Jalatrang, Solihin juga mempertanyakan logika publik yang menilai perilaku tawadhu santri sebagai bentuk penindasan.

“Apakah lebih pantas anak-anak sekarang petantang-petenteng di depan guru dan orang tuanya, atau justru harus tawadhu seperti santri terhadap kyainya?” ucapnya retoris.

Menurutnya, publik perlu menggunakan akal sehat dan hati yang jernih dalam menilai budaya pesantren yang sarat makna spiritual.

Bukan sekadar simbol ketaatan buta.

Ajak Semua Pimpinan Pesantren Bersatu

Sebagai mantan aktivis HMI, Solihin juga mengajak para pimpinan pondok pesantren di seluruh Indonesia untuk bersatu melawan narasi negatif dan komentar liar yang menyudutkan pesantren.

“Sebagian besar komentar miring itu justru datang dari orang yang tidak pernah menjadi santri. Kalau mau mengomentari pesantren, jadilah santri dulu yang benar,” tegasnya.

Ingat Jasa Kyai dan Santri untuk Bangsa

Di akhir pernyataannya, Solihin juga mengingatkan kembali pesan Bung Karno:

“Jas Merah Jangan sekali-kali melupakan sejarah.”

“Bangsa ini bisa merdeka berkat andil para kyai dan santri yang ikut berjuang mengusir penjajah. Karena itu, jangan biarkan warisan perjuangan itu dinodai oleh tayangan yang menyesatkan,” pungkasnya.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *