banner 728x250

Halalbihalal atau Halal Bi Halal? Ini Penulisan yang Baku KBBI

Foto: ilustrasi
Foto: ilustrasi
banner 120x600
banner 468x60

Edukasi,kondusif.inewsciamis.com/,- Halalbihalal atau Halal Bi Halal? Setelah keriuhan mudik mereda dan gema takbir berganti dengan aktivitas rutin, ada satu tradisi yang tak pernah absen di tanah air: silaturahmi pasca-Lebaran. Kita sering menyebutnya dengan istilah halalbihalal.

​Namun, pernahkah Anda merasa bimbang saat harus mengetik kata ini di undangan kantor atau judul berita? Apakah “halal bi halal”, “halal-bi-halal”, atau “halalbihalal”?

banner 325x300

​Mari kita bedah secara tuntas agar tulisan Anda tidak hanya menarik, tetapi juga tertib secara linguistik.

​Satu Kata, Bukan Tiga

​Banyak orang terjebak dalam logika bahasa Arab saat menulis istilah ini, sehingga memisahkannya menjadi tiga kata: halal bi halal.

Secara etimologi, ia memang berasal dari serapan bahasa Arab, namun secara tata bahasa Indonesia, ia juga telah menjadi kata majemuk yang padu.

​Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penulisan yang benar adalah:

​halalbihalal (ditulis serangkai, tanpa spasi, dan tanpa tanda hubung).

​Penggunaan huruf kapital juga hanya berlaku jika ia berada di awal kalimat atau digunakan sebagai bagian dari judul berita/acara.

​Mengapa Harus Serangkai?

​Dalam kaidah bahasa Indonesia, proses penyerapan istilah asing juga sering kali mengalami penyesuaian bentuk.

Halalbihalal juga dianggap sebagai satu kesatuan konsep kegiatan. Mengutip KBBI, arti halalbihalal adalah:

​Hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, biasanya diadakan di sebuah tempat oleh sekelompok orang.

​Acara silaturahmi.

​Jadi, ketika Anda menulisnya terpisah, secara teknis Anda sedang merusak satu kesatuan makna yang sudah dibakukan oleh negara.

​Implementasi dalam Penulisan Berita dan Formal

​Bagi jurnalis atau staf humas, konsistensi adalah kunci. Berikut adalah panduan praktis penerapannya:

​1. Penulisan Judul Berita

Sesuai dengan gaya selingkung media besar (seperti Tempo atau Kompas), gunakan huruf kapital di setiap awal kata jika itu judul, namun tetap jaga kesatuannya.

​Salah: Warga Jakarta Gelar Halal Bi Halal di Monas.

​Benar: Warga Jakarta Gelar Halalbihalal di Monas.

​2. Penulisan dalam Tubuh Berita

Gunakan huruf kecil jika berada di tengah kalimat.

​”Dalam sambutannya di acara halalbihalal pagi tadi, Gubernur menekankan pentingnya menjaga kerukunan antarwarga…”

​3. Surat Undangan atau Poster

Hindari penggunaan tanda hubung (-). Penggunaan tanda hubung hanya akan membuat desain visual Anda terlihat kuno dan tidak sesuai kaidah terbaru.

​Gaya Modern: “Undangan Halalbihalal Keluarga Besar…”

​Mengapa “Halalbihalal” Itu Unik?

​Menariknya, istilah ini juga sebenarnya tidak dikenal di Arab Saudi maupun negara Timur Tengah lainnya.

Ini adalah produk orisinal budaya Indonesia sebuah kreasi linguistik yang lahir dari kebutuhan politik dan sosial di masa Bung Karno untuk mendamaikan elit politik saat itu.

​Karena ini adalah “kekayaan” bahasa kita, maka memperlakukan penulisannya dengan benar adalah bentuk penghormatan terhadap identitas budaya itu sendiri.

​Jika Anda ragu, ingatlah rumus sederhana ini: Satukan cintanya, satukan katanya. Tidak perlu ada jarak (spasi) atau pembatas (tanda hubung) di antara halal dan halal.

​Jadi, sudah siap merevisi draf undangan atau artikel Anda? Pastikan halalbihalal sudah tertulis dengan benar sebelum tombol send atau publish diklik!

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *