banner 728x250
News  

Skandal Besar Beras Oplosan: 212 Merek Terlibat, Rakyat Miskin Menjerit

banner 120x600
banner 468x60

Jakarta,kondusif.inewsciamis.com/,– Berita beras oplosan kembali menggemparkan publik. Sebanyak 212 merek beras diduga melakukan praktik penipuan dengan cara mencampur beras kualitas rendah lalu menjualnya dengan label premium.

Di tengah tekanan ekonomi dan harga kebutuhan pokok yang terus naik, rakyat kecil kembali jadi korban permainan curang para raksasa industri.

banner 325x300

Investigasi besar-besaran yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian bersama Satgas Pangan Polri membongkar modus oplosan ini.

Nilai kerugian masyarakat akibat praktik ini diperkirakan mencapai Rp99 triliun per tahun.

“Ini seperti menjual emas 18 karat tapi dibilang 24 karat. Padahal harganya jelas beda,” tegas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dalam rapat dengan Komisi IV DPR, Rabu (16/7/2025).

Beras Oplosan: Label Premium, Mutu Rendahan

Lebih lanjut, modus yang digunakan begitu rapi. Beras medium dicampur lalu dikemas ulang dengan label premium.

Tak hanya menipu kualitas, sebagian produk juga ternyata menyalahi berat kemasan. Beras 4,5 kg dijual dalam kemasan 5 kg.

“Sebagian besar dari 212 merek tidak memenuhi standar labelisasi dan berat bersih. Ini penyesatan publik secara sistematis,” kata Amran.

Ironisnya, beras yang seharusnya jadi makanan pokok rakyat justru dijadikan alat tipu daya bisnis demi keuntungan sepihak.

Awal Terbongkarnya: Harga Konsumen Naik, Harga Petani Turun

Kecurigaan bermula dari anomali harga. Dalam dua bulan terakhir, harga gabah di petani turun, namun harga beras di pasar justru naik.

Seharusnya, jika petani tak menikmati harga tinggi, tidak masuk akal bila harga di konsumen melonjak.

“Harusnya kalau harga di petani naik, baru wajar harga konsumen ikut naik,” ujar Amran.

Bareskrim Usut Tuntas, Pemeriksaan Terus Berlanjut

Kemudian, empat pihak telah dipanggil dan diperiksa oleh Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri sejak 10–14 Juli 2025.

Proses hukum masih terus berjalan karena jumlah merek yang terindikasi sangat besar.

“Pemeriksaan masih berlanjut,” ujar Brigjen Pol Helfi Assegaf, Direktur Tipideksus, Senin (14/7/2025).

Merek Besar Juga Terlibat

Sejumlah merek ternama ikut terseret dalam dugaan kasus beras oplosan ini. Antara lain:

Sania, Sovia, Fortune, Siip – (Wilmar Group)

Kemudian, Setra Ramos, Pulen Wangi, Food Station, Setra Pulen – (Food Station Tjipinang Jaya)

Lalu, Raja Platinum, Raja Ultima – (PT Belitang Panen Raya)

Ayana – (PT Sentosa Utama Lestari, bagian dari Japfa Group)

Sebagian produk kini sudah ditarik dari ritel modern usai viral di media sosial.

Rakyat Miskin Kembali Jadi Korban

Di balik angka-angka besar, ada jutaan keluarga kecil yang tak sadar sedang ditipu.

Dengan penghasilan pas-pasan, mereka membeli beras mahal demi kualitas, tapi justru dapatkan yang murahan.

“Ini bukan sekadar pelanggaran ekonomi, tapi pelanggaran moral. Saat orang kecil rela bayar lebih demi makan layak, mereka justru ditipu,” kritik aktivis konsumen, Dewi Indrawati, dari Koalisi Pangan Aman.

Pemerintah Didukung Bertindak Tegas

Berbagai pihak mendesak pemerintah menindak tegas pelaku, termasuk perusahaan besar yang terlibat.

Tak cukup hanya dengan penarikan produk, pengawasan distribusi pangan harus diperketat dan pelaku harus ditindak secara pidana.

Lebih lanjut, berita beras oplosan ini bukan hanya membuka aib pengawasan pangan nasional.

Tetapi juga jadi cermin betapa lemah posisi konsumen kecil dalam sistem ekonomi.

Di saat rakyat harus memilih antara makan dan bertahan hidup, mereka bahkan tak tahu, beras di piringnya mungkin hanyalah ilusi dari label palsu.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *