banner 728x250
News  

BEM Unsil Desak Investigasi Transparan atas Dugaan Perundungan oleh Oknum ASN

banner 120x600
banner 468x60

Tasikmalaya, kondusif.inewsciamis.com/, Kasus dugaan kekerasan fisik dan seksual yang melibatkan seorang oknum aparatur sipil negara (ASN) terhadap mahasiswa di Tasikmalaya menuai sorotan luas, terutama dari lingkungan akademik.

Merespons situasi tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Siliwangi (Unsil) mengambil langkah tegas dengan menyampaikan pernyataan resmi melalui akun Instagram @bemunsil pada Jumat (5/7/2025).

banner 325x300

Pernyataan ini tidak hanya ditandatangani oleh BEM Universitas, tetapi juga Badan Legislatif Mahasiswa Universitas (BLMU) serta ujuh BEM fakultas di lingkungan Unsil.

Sikap kolektif ini menunjukkan kesatuan suara mahasiswa Unsil dalam memperjuangkan ruang aman di kampus.

Video Sikap Ketua BEM: “Kami Berdiri Bersama Korban”

Ketua BEM Unsil, Muhammad Risaldi, tampil dalam sebuah video berdurasi satu menit sebagai bagian dari pernyataan sikap tersebut.

Dalam video itu, ia menegaskan bahwa seluruh elemen mahasiswa di Universitas Siliwangi mendukung korban secara penuh.

“BEM Universitas Siliwangi dan seluruh BEM fakultas berdiri bersama korban. Kami menjunjung tinggi nilai-nilai Hak Asasi Manusia atas setiap pelanggaran yang terjadi,” ujar Risaldi.

Video ini viral di kalangan mahasiswa dan mendapat banyak respons dari netizen, baik di dalam maupun di luar lingkungan Unsil.

Tuntutan: Investigasi Independen dan Evaluasi Satgas

Dalam surat terbuka yang diunggah BEM Unsil, mereka mendesak Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS).

Universitas Siliwangi untuk melakukan investigasi secara menyeluruh, independen, dan akuntabel.

BEM juga menggarisbawahi perlunya evaluasi serius terhadap efektivitas Satgas PPKS.

Khususnya dalam hal pencegahan kekerasan seksual, serta memastikan bahwa fungsi advokasi terhadap korban berjalan maksimal.

“Kami menolak segala bentuk kekerasan di ruang akademik dan menyerukan pendekatan kolaboratif pentahelix untuk memperkuat sistem perlindungan kampus,” tulis mereka dalam surat pernyataan.

Desakan Transparansi atas Kasus yang Belum Tuntas

Pernyataan BEM Unsil tidak berhenti pada kasus saat ini. Mereka juga menuntut penyelesaian atas kasus-kasus serupa yang pernah terjadi namun belum mendapat kejelasan hingga kini.

Langkah ini dilakukan untuk menghindari preseden buruk, di mana pelaku kekerasan lolos dari pertanggungjawaban hukum maupun etik.

“Kami mendesak adanya transparansi dan penyelesaian atas seluruh kasus yang belum dituntaskan,” kata Muhammad Risaldi dengan tegas.

Reaksi Kampus dan Masyarakat: Seruan untuk Reformasi Perlindungan

Sikap tegas BEM Unsil memicu gelombang dukungan dari berbagai kalangan. Banyak mahasiswa, alumni, dan akademisi menyatakan dukungannya terhadap upaya kolektif ini.

Di sisi lain, masyarakat luas juga mendesak agar perguruan tinggi menjadi ruang aman dari segala bentuk kekerasan, diskriminasi, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Isu ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penanganan kasus kekerasan seksual di kampus tidak bisa hanya menjadi urusan birokrasi.

Akan tetapi perlu komitmen nyata dan transparansi dari seluruh pihak.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *