Jakarta, KONDUSIF – Menjelang Lebaran 2025, perbankan nasional bakal mengalami perombakan besar. Sejumlah posisi strategis di jajaran direksi bank pelat merah dikabarkan akan berganti dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.
Mengacu pada keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) akan menjadi yang pertama menggelar RUPST pada Senin, 24 Maret 2025. Sehari setelahnya, giliran PT Bank Mandiri. Sementara PT Bank Negara Indonesia (BNI) dan PT Bank Tabungan Negara (BTN) akan menggelar rapat pada Rabu, 26 Maret 2025.
Salah satu agenda yang paling dinanti adalah pergantian jajaran direksi, terutama posisi direktur utama. Santer beredar kabar bahwa tiga bank pelat merah akan mengganti pucuk pimpinannya.
Siapa Saja yang Diganti?
Sumber yang beredar menyebutkan bahwa pergantian direksi akan diputuskan dalam RUPST akhir bulan ini. Jika benar, maka sebelum Lebaran 2025, sejumlah bank BUMN sudah memiliki pimpinan baru.
Salah satu posisi yang disebut bakal berganti adalah Direktur Utama BRI. Sunarso, yang telah memimpin sejak 2019, dikabarkan akan lengser. Sosok yang santer disebut sebagai penggantinya adalah Wakil Direktur Utama BRI, Catur Budi Harto. Namun, hingga saat ini, Catur belum memberikan konfirmasi terkait isu tersebut.
Perubahan juga kemungkinan terjadi di BNI. Royke Tumilaar, yang saat ini menjabat sebagai Direktur Utama, dikabarkan akan digantikan oleh Wakil Direktur BNI, Putrama Wahju Setyawan. Penyegaran di tubuh BNI disebut menjadi alasan utama pergantian ini.
Di Bank Mandiri, nama Alexandra Askandar yang saat ini menjabat sebagai Wakil Direktur Utama—muncul sebagai kandidat kuat menggantikan Darmawan Junaidi. Darmawan sendiri mulai menjabat sebagai Dirut Bank Mandiri sejak 21 Oktober 2020, setelah sebelumnya menggantikan Royke yang pindah ke BNI.
Dampak Pergantian Direksi
Perubahan di jajaran direksi bank pelat merah tentu tidak lepas dari dinamika kebijakan pemerintah dan pemegang saham. Selain upaya penyegaran, rotasi ini juga diperkirakan akan berdampak pada strategi bisnis dan arah kebijakan perbankan nasional ke depan.
Meskipun belum ada pengumuman resmi, perombakan ini diprediksi akan membawa nuansa baru bagi industri keuangan, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi pasca-Lebaran. Dengan jajaran pimpinan baru, bank-bank BUMN diharapkan mampu semakin agresif dalam mengembangkan bisnis, meningkatkan layanan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Kini, publik tinggal menunggu kepastian dari hasil RUPST pekan depan. Apakah benar akan ada perombakan besar? Atau justru skenario lain yang akan terjadi? Yang jelas, perubahan ini akan menjadi sorotan utama di dunia perbankan Indonesia.


















