banner 728x250

IHSG Terjun Bebas, Mengulang Sejarah Kelam 1998 dan 2020, Apakah akan Krisis?

banner 120x600
banner 468x60

Jakarta, Kondusif – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami pukulan telak. Pada perdagangan Selasa (18/3), IHSG anjlok lebih dari 6 persen, mengingatkan kembali pada momen-momen krisis besar dalam sejarah pasar modal Indonesia mulai dari krisis keuangan Asia 1998 hingga pandemi Covid-19 pada 2020.

Pada pukul 11:19 WIB, Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa menghentikan sementara perdagangan (trading halt) setelah IHSG merosot 6,02 persen ke level 6.058. Langkah ini diambil untuk menstabilkan pasar yang dihantam aksi jual besar-besaran, terutama dari investor asing.

banner 325x300

Setelah perdagangan dibuka kembali pada pukul 11:49 WIB, IHSG sempat menyentuh level 6.011 sebelum akhirnya menutup sesi pertama di 6.076.

Seberapa Parah Kejatuhan IHSG, Akankah Krisis?

Untuk memahami dampak kejatuhan IHSG kali ini, perlu melihat sejarah kejatuhan besar yang pernah terjadi di pasar modal Indonesia.

1. Krisis Moneter 1998: IHSG Terjun 12% dalam Sehari

Pada 8 Januari 1998, IHSG mencatat penurunan harian terdalam dalam sejarah, anjlok hampir 12 persen ke level 347. Krisis keuangan Asia saat itu menghancurkan ekonomi Indonesia—rupiah terjun bebas, perbankan kolaps, dan banyak perusahaan besar bangkrut akibat utang luar negeri yang melonjak drastis.

2. Pandemi Covid-19: 7 Kali Trading Halt dalam Sebulan

Maret 2020 menjadi salah satu periode tergelap bagi IHSG. Pada 9 Maret 2020, IHSG jatuh 6,58 persen ke 5.136,81, yang menjadi awal dari tujuh kali trading halt dalam beberapa pekan berikutnya. Pada 24 Maret 2020, IHSG mencapai titik terendah di level 3.937, turun lebih dari 37 persen sejak awal tahun.

Saat itu, BEI bahkan harus mengubah aturan batas bawah penurunan harga saham agar pasar tidak semakin terperosok.

Apa Penyebab IHSG Ambruk Hari Ini?

Pengamat pasar modal dan keuangan, Ibrahim Assuaibi, menilai kejatuhan IHSG kali ini memiliki kemiripan dengan peristiwa pada 2019, ketika perang dagang AS-China mengguncang pasar dan menyebabkan IHSG turun hingga 10 persen ke level 6.056.

Namun, Oktavianus Audi, Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai bahwa faktor utama kejatuhan IHSG kali ini lebih banyak dipicu oleh masalah domestik, terutama kondisi fiskal yang memburuk.

“Defisit APBN meningkat tajam. Per Februari 2025, defisit mencapai 0,13 persen dari PDB atau Rp31,2 triliun, dibandingkan tahun lalu yang masih surplus Rp26,04 triliun. Penerimaan pajak juga turun drastis, dari Rp400,36 triliun pada Februari 2024 menjadi hanya Rp187,8 triliun di bulan yang sama tahun ini,” jelasnya.

Dampak dari kondisi fiskal ini memicu arus modal keluar (capital outflow) dalam jumlah besar. Hingga 17 Maret 2025, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp26,9 triliun.

“Sentimen negatif ini akhirnya meledak hari ini, diperparah oleh aksi ambil untung di saham teknologi yang sebelumnya naik tinggi. Tekanan juga terjadi di saham-saham perbankan besar, semakin menyeret IHSG ke zona merah,” tambahnya.

Tak hanya investor institusi, investor ritel juga panik dan melakukan aksi jual besar-besaran, yang semakin memperparah situasi hingga BEI harus kembali melakukan trading halt.

Ke Mana Arah IHSG Selanjutnya?

Hingga akhir sesi pertama, IHSG bergerak di rentang 6.011-6.483, masih berusaha menemukan keseimbangan setelah guncangan besar. Jika sentimen negatif terus berlanjut, bukan tidak mungkin IHSG kembali mengalami tekanan lebih dalam, mengingat kondisi makroekonomi global dan domestik yang masih penuh ketidakpastian.

Apakah ini akan menjadi krisis baru bagi IHSG? Ataukah pasar akan segera pulih setelah gelombang kepanikan mereda? Semua mata kini tertuju pada langkah-langkah yang akan diambil pemerintah dan otoritas pasar modal dalam merespons situasi ini.

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *