banner 728x250
News  

Bahlil Ungkap 21 Proyek Hilirisasi Senilai USD40 Miliar, Begini Dampaknya bagi Indonesia

Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemerintah terus mempercepat hilirisasi industri guna memperkuat ketahanan energi, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

banner 120x600
banner 468x60

Jakarta, Kondusif – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemerintah terus mempercepat hilirisasi industri guna memperkuat ketahanan energi, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam pertemuan yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, 3 Maret 2025, pemerintah menyepakati 21 proyek hilirisasi tahap pertama dengan total investasi mencapai USD40 miliar.

Bahlil menjelaskan bahwa proyek-proyek ini mencakup berbagai sektor strategis, termasuk minyak dan gas, pertambangan, pertanian, serta kelautan. “Kami telah menetapkan tahap pertama hilirisasi dengan target total investasi sekitar USD618 miliar. Untuk tahun 2025, kami telah merinci 21 proyek awal dengan total investasi sekitar USD40 miliar. Pembahasannya telah dilakukan secara detail, termasuk nama-nama proyek yang akan dijalankan,” ujar Bahlil dalam konferensi pers usai pertemuan.

banner 325x300

Salah satu proyek utama adalah pembangunan fasilitas penyimpanan minyak di Pulau Nipah. Proyek ini bertujuan meningkatkan ketahanan energi nasional dengan menyediakan cadangan minyak yang mampu memenuhi kebutuhan selama 30 hari, sesuai amanat Peraturan Presiden.

Selain itu, pemerintah juga akan membangun refinery atau kilang minyak berkapasitas 500 ribu barel per hari. Kilang ini akan menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia, dengan tujuan menstabilkan pasokan energi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Di sektor gasifikasi batu bara, pemerintah menargetkan produksi Dimethyl Ether (DME) sebagai substitusi LPG. Menurut Bahlil, proyek ini akan dijalankan dengan pendekatan baru, mengutamakan sumber daya dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada investasi asing.

“Kali ini kita tidak perlu investor asing. Sesuai kebijakan Presiden, kita akan memanfaatkan sumber daya nasional. Yang kita butuhkan dari mereka hanya teknologi. Sementara pendanaan akan berasal dari pemerintah dan swasta nasional, bahan bakunya dari dalam negeri, serta off taker-nya juga dari kita sendiri,” tegas Bahlil.

Proyek DME ini akan dikembangkan di beberapa wilayah strategis, seperti Sumatra Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Selain itu, hilirisasi juga akan diterapkan di sektor pertambangan, termasuk pengolahan tembaga, nikel, dan bauksit hingga menjadi alumina. Sektor perikanan, pertanian, dan kehutanan pun masuk dalam prioritas pengembangan.

Presiden Prabowo telah menetapkan 26 sektor komoditas sebagai prioritas hilirisasi nasional, mencakup mineral, minyak dan gas, perikanan, pertanian, perkebunan, serta kehutanan. Selain memperkuat ketahanan energi dan industri nasional, program ini juga diproyeksikan menciptakan banyak lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia.

“Dampaknya akan sangat besar terhadap penciptaan lapangan kerja. Kami akan mengumumkan angka pastinya di kesempatan berikutnya, tetapi yang jelas ini adalah kombinasi antara industri padat karya dan padat teknologi. Tujuan utama investasi ini adalah menciptakan lapangan pekerjaan berkualitas, meningkatkan nilai tambah, serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” ungkap Bahlil.

Dengan perencanaan yang matang dan dukungan dari berbagai pihak, pemerintah optimistis bahwa proyek-proyek hilirisasi ini akan memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.*** Sumber : BPMI SETPRES

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *