banner 728x250

Fatahillah: Sang Penakluk Portugis dan Pendiri Jayakarta

Fatahillah, yang juga dikenal sebagai Faletehan, lahir pada tahun 1448 di Pasai, Aceh Utara. Ia bukan orang sembarangan darah keturunan Bani Hasyim

banner 120x600
banner 468x60

kondusif.inewsciamis.com/ — Sejarah mencatat nama Fatahillah sebagai sosok panglima perang yang gagah berani, penakluk Portugis di Sunda Kelapa, sekaligus pendiri kota Jayakarta, cikal bakal Jakarta. Kisahnya bukan hanya tentang peperangan dan strategi militer, tetapi juga tentang perjuangan mempertahankan identitas, agama, dan budaya Nusantara dari cengkeraman bangsa asing.

Dari Pasai ke Tanah Jawa: Jejak Perjalanan Seorang Pejuang

Fatahillah, yang juga dikenal sebagai Faletehan, lahir pada tahun ga di Pasai, Aceh Utara. Ia bukan orang sembarangan darah keturunan Bani Hasyim mengalir dalam dirinya, silsilah yang dipercaya berasal dari Nabi Muhammad. Ayahnya, Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, adalah seorang pembesar dari Mesir, sementara ibunya, Nyai Rara Santang, merupakan putri Raja Pajajaran.

banner 325x300

Sejak muda, Fatahillah sudah mengenal dunia ilmu dan keislaman. Ketika Pasai jatuh ke tangan Portugis, ia hijrah ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama dan strategi kepemimpinan. Setelah bertahun-tahun merantau, ia kembali ke Nusantara dan mengabdi pada Kesultanan Demak, yang saat itu berada di bawah kepemimpinan Sultan Trenggana.

Keberanian dan kebijaksanaannya membuat Fatahillah dipercaya untuk menjalankan misi penting: menyebarkan Islam ke wilayah barat Pulau Jawa dan mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Dengan kekuatan 2.000 prajurit dan 20 kapal perang dari Demak dan Cirebon, ia berlayar menuju tanah yang kelak menjadi medan pertarungan bersejarah.

Penaklukan Sunda Kelapa: 22 Juni 1527, Hari Kemenangan

Ekspedisi Fatahillah dimulai dengan menaklukkan Banten pada tahun 1526, pelabuhan strategis Kerajaan Sunda yang masih beragama Hindu. Setelah menguasai Banten, ia melanjutkan langkahnya ke Sunda Kelapa, kota pelabuhan utama Kerajaan Sunda yang sudah menjalin hubungan dagang dengan Portugis.

Puncak pertempuran terjadi pada 22 Juni 1527. Pasukan Fatahillah menghadapi 500 prajurit Portugis yang dipimpin Duarte Coelho. Dengan taktik perang yang matang, pasukannya berhasil menghancurkan benteng Portugis dan menenggelamkan kapal-kapal mereka. Tak hanya itu, Fatahillah juga membumihanguskan segala jejak Portugis di wilayah tersebut.

Sebagai tanda kemenangan, ia mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang berarti “kota kemenangan.” Sebuah deklarasi simbolis bahwa tanah ini bukan hanya bebas dari Portugis, tetapi juga siap menjadi pusat kebangkitan Islam dan perdagangan di Nusantara.

Warisan Fatahillah: Jejak yang Tak Terhapus Zaman

Fatahillah wafat pada tahun 1570 dan dimakamkan di Astana Gede, Cirebon. Namun, warisan yang ditinggalkannya tetap abadi hingga kini. Beberapa peninggalannya yang masih bisa kita lihat antara lain:

  • Museum Fatahillah, yang dulunya merupakan balai kota Batavia, dibangun di atas bekas istana Fatahillah.
  • Tugu Fatahillah, yang berdiri di depan museum, menggambarkan sosoknya dengan pedang dan tameng.
  • Masjid Luar Batang, salah satu masjid tertua di Jakarta, yang konon didirikan oleh Fatahillah pada tahun 1527.
  • Makam Fatahillah di Cirebon, yang menjadi tempat ziarah banyak orang.
  • Nama Fatahillah, yang diabadikan menjadi nama jalan, gedung, dan institusi penting di Jakarta dan sekitarnya.

Fatahillah bukan hanya seorang panglima perang, tetapi juga simbol perlawanan dan identitas bangsa. Namanya akan terus dikenang sebagai sosok yang berjasa besar dalam membangun pondasi Jakarta, sekaligus sebagai pahlawan yang berhasil mengusir penjajah dari Nusantara. Sejarah telah mencatatnya sebagai Sang Penakluk Portugis dan Pendiri Jayakarta, sebuah gelar yang akan terus abadi dalam ingatan bangsa.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *