Banjar, kondusif.inewsciamis.com/ – Bulan September dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia bukan sekadar catatan kalender, melainkan juga saksi atas luka kemanusiaan yang belum sepenuhnya terobati.
Mulai dari Tragedi Semanggi II, penghilangan paksa aktivis, hingga pembunuhan Munir Said Thalib, semua peristiwa tersebut merupakan bagian dari sejarah kelam bangsa yang masih menggantung tanpa kejelasan hukum.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap nilai kemanusiaan dan upaya merawat ingatan kolektif bangsa, BEM Nusantara Jawa Barat menyelenggarakan Istigosah dan Refleksi September Hitam di Kota Banjar pada Senin (29/9/2025).
Kegiatan ini menjadi ruang kontemplasi sekaligus pengingat bahwa perjuangan demokrasi dan hak asasi manusia tidak boleh berhenti pada retorika, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang berpihak pada rakyat.
Dalam momen istigosah, peserta diajak untuk introspeksi diri, memohon ampunan dan petunjuk dari Sang Pencipta, serta memperkuat kesadaran spiritual. Sementara refleksi September Hitam menjadi pengingat atas peristiwa-peristiwa kelam di bulan September dan pelajaran berharga yang harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Koordinator BEM Nusantara Jabar, Joni Setawan, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk konsistensi mahasiswa dalam mengawal demokrasi dan kemanusiaan.
“September adalah bulan penuh luka sejarah. Kita menolak lupa, karena melupakan berarti membiarkan luka semakin dalam. BEM Nusantara Jabar akan terus bersuara, berdiri bersama rakyat, dan menuntut negara hadir untuk menegakkan keadilan,” ujarnya.
Dalam forum refleksi tersebut, BEM Nusantara Wilayah Jawa Barat juga menyampaikan sikap tegas sekaligus tuntutan kepada pemerintah:
Menegakkan supremasi sipil dengan memastikan kekuasaan sipil memiliki kendali penuh atas kebijakan strategis negara.
Mendesak Presiden Republik Indonesia membuktikan pernyataan terkait keterlibatan asing dan indikasi makar dalam aksi Agustus lalu dengan membentuk tim investigasi independen yang transparan dan lintas elemen.
Mengusut tuntas seluruh kasus pelanggaran HAM, baik masa lalu maupun masa kini.
Menghentikan segala bentuk impunitas dan kriminalisasi terhadap rakyat yang menggunakan hak konstitusionalnya untuk bersuara.
Mendesak pemerataan infrastruktur pendidikan, khususnya di daerah 3T, guna mewujudkan keadilan sosial.
Meningkatkan kesejahteraan guru dan tenaga pendidik sebagai garda terdepan mencerdaskan kehidupan bangsa.
BEM Nusantara Jawa Barat menegaskan kembali komitmennya untuk berdiri bersama rakyat dalam memperjuangkan keadilan, menolak lupa atas tragedi kemanusiaan, serta menyerukan agar negara hadir untuk menuntaskan agenda penegakan HAM dan demokrasi di Indonesia.
Refleksi September Hitam menjadi pengingat bahwa keadilan tidak boleh ditunda dan kebenaran tidak boleh dikubur oleh kepentingan politik. Sejarah, pada akhirnya, hanya akan berpihak kepada mereka yang berani memperjuangkannya.***


















